Koransatu, Malang — Ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara akhirnya menjejakkan kaki di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”, Bululawang, Kabupaten Malang, pada Rabu (30/9/2026). Rasa lelah usai menempuh perjalanan jauh seolah menguap begitu saja, berganti dengan decak kagum melihat rimbunnya pepohonan dan rumpun bambu yang menyambut mereka di arena Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI.
Bagi ajang berskala nasional yang digagas Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama ini, kesan pertama yang asri dan sejuk langsung melekat di benak para peserta. Tidak hanya alamnya yang memanjakan mata, keramahan panitia juga mendapat sorotan positif dari berbagai kontingen.
Fathan Akmal Anshori, santri asal Riau yang sudah memulai perjalanan sejak 27 September lalu, mengaku betah dengan suasana perkemahan. Walau sempat kesulitan menancapkan pasak tenda karena beberapa titik tanah dilapisi semen, ia tetap memberikan apresiasi tinggi.
“Tempatnya asri dan bagus. Kami juga langsung diarahkan panitia untuk mengemasi barang menuju lokasi. Benar-benar sigap dan ramah, salut buat panitianya,” ujar Fathan.
Reaksi antusias juga datang dari Eko Rizky Mohidan asal kontingen Jawa Barat. Kesan pertamanya cukup digambarkan dengan satu kata penegasan. “Pokoknya wow, Kak! Tempatnya sangat luas dan bagus. Lingkungan di sini juga ramah banget,” ucapnya.
Di sudut lain bumi perkemahan, Muhammad Dawam Effendi dari Jawa Timur terlihat sangat menikmati semilir angin di bawah naungan pohon. Baginya, kesejukan alam ini membuat suasana kemah menjadi sangat ideal. Ia bahkan tak ragu memberikan predikat “Grade A” untuk performa panitia dalam menyambut kedatangan peserta.
Kedekatan dengan alam di PPSN VI ini bukan sekadar bonus fasilitas. Momen berkemah di tengah rimbunnya pepohonan menjadi sentuhan langsung dari butir kedua Dasa Darma Pramuka: cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Bagi ekosistem pesantren, alam adalah amanah yang harus dirawat, dan keteduhan lokasi kemah ini menjadi ruang nyata bersatunya nilai iman, persaudaraan, serta kepedulian lingkungan.
Meski suasananya santai, hawa persaingan sehat tetap terasa kental. Setiap santri datang membawa misi. Fathan dari Riau memilih fokus untuk memperluas relasi dan mengasah keterampilan baru.
Dawam dari Jawa Timur justru mematok target yang jauh lebih tajam. “Kami bertekad menjadi yang terbaik dari yang terbaik di PPSN ini. Kami ingin pulang ke pondok pesantren membawa gelas yang penuh dengan ilmu baru,” tegasnya.
Tak mau kalah, kontingen Jawa Barat datang dengan mental pemenang. Lewat yel-yel yang menggema di seluruh area perkemahan, Eko mewakili rekan-rekannya menyerukan ambisi besar mereka.
“Inilah kami dari Jawa Barat, datang ke sini untuk jadi juara! Semoga dari perkemahan ini, kami bisa ikut mengubah dunia menjadi lebih baik,” tutup Eko penuh semangat.








Komentar