Buku yang diterbitkan Penerbit Deepublish (CV Budi Utama) tersebut mengajak para pendidik melihat kembali makna pengabdian dalam dunia pendidikan. Guru tidak cukup hanya hadir di ruang kelas dan menuntaskan materi pelajaran, tetapi juga perlu memberikan keteladanan serta menumbuhkan harapan bagi anak-anak yang dididiknya.
Asep Azis Nasser, Ketua Tim (Katim) Kurikulum dan Kesiswaan Bidang Pendidikan Madrasah (Penma) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten, menggunakan metafora perahu untuk menggambarkan peran pendidik. Perahu yang kuat harus berani meninggalkan dermaga agar dapat mengantarkan penumpangnya menuju tujuan.
“Guru harus menjadi perahu kokoh yang dengan layar gagah menantang angin, siap berlayar menembus badai hingga bertemu pantai harapan anak-anak bangsa,” ungkap Asep kepada koransatu.co, Kamis, 15 Oktober 2026.
Metafora tersebut menegaskan, bahwa menjadi pendidik membutuhkan keberanian menghadapi tantangan. Guru dituntut untuk terus bergerak, memperbaiki diri, dan tidak terjebak dalam pola kerja yang hanya berorientasi pada rutinitas.
Dalam buku itu,kata dia, istilah bercahaya dimaknai sebagai kemampuan seorang guru untuk tidak hanya memiliki kualitas diri, tetapi juga membagikan nilai-nilai positif kepada peserta didik. Cahaya tersebut dapat hadir melalui pengetahuan, sikap, ketulusan, maupun cara guru mendampingi anak dalam proses tumbuh kembangnya.
Lebih lanjut kata dia, peran itu menjadi penting karena setiap peserta didik memiliki potensi dan rencana masa depan yang perlu dibimbing. Guru diharapkan mampu membantu mereka merancang tujuan, memahami kemampuan diri, dan mengambil langkah untuk mewujudkan cita-cita.
Asep juga menyoroti pentingnya keberanian meninggalkan zona nyaman. Menurut gagasan yang dituangkan dalam bukunya, pendidik perlu berdamai dengan masa lalu, melepaskan penyesalan, serta membuka diri terhadap perubahan agar dapat terus memberikan manfaat.
“Guru yang bercahaya akan meninggalkan dermaga, meninggalkan masa lalu yang mengganggu, melepas tali penambat, dan melambai pada penyesalan. Hadirnya menyenangkan, tak adanya dirindukan, serta cintanya utuh dan tulus tak pernah runtuh,” tambahnya.
Pesan tersebut menjadi ajakan untuk menempatkan hubungan manusiawi antara guru dan peserta didik sebagai bagian penting dari pendidikan. Kehadiran guru semestinya meninggalkan kesan baik, memberikan rasa aman untuk belajar, dan mendorong anak agar berani mengembangkan potensinya.
Melalui buku Guru yang Bercahaya, Asep menawarkan bahan refleksi bagi guru, calon pendidik, dan praktisi pendidikan tentang kualitas pengabdian yang selama ini dijalankan. Salah satu pertanyaan yang diangkat ialah, “Sudahkah seorang guru bercahaya?”
Pertanyaan itu mengajak pendidik mengevaluasi bukan hanya apa yang telah diajarkan, tetapi juga nilai apa yang telah ditanamkan dan pengaruh apa yang ditinggalkan dalam perjalanan hidup peserta didik.
“Buku bertema pendidikan, motivasi, dan refleksi kependidikan ini telah diterbitkan oleh Deepublish. Kehadirannya diharapkan memperkaya bahan bacaan bagi para pendidik yang ingin memaknai profesi guru secara lebih mendalam, sekaligus memperkuat peran pendidikan dalam menyiapkan generasi masa depan,” tandasnya.*








Komentar