Aktivis Muda NU Dukung Gagasan Gus Yusuf Perkuat Tata Kelola dan Pendampingan Pesantren

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gus Yusuf saat menyampaikan pandangannya dalam diskusi menjelang Muktamar NU. (Tangkapan layar YouTube Yayasan Talibuana Nusantara)

Gus Yusuf saat menyampaikan pandangannya dalam diskusi menjelang Muktamar NU. (Tangkapan layar YouTube Yayasan Talibuana Nusantara)

Koran Satu, Jakarta – Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, menilai Nahdlatul Ulama perlu memperkuat kembali perannya dalam mendampingi pesantren yang menghadapi persoalan pendidikan, infrastruktur, hingga stigma negatif.

Hal itu disampaikan Gus Yusuf dalam diskusi bertema “NU Masa Depan & Masa Depan NU” yang menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Masykuri Abdillah, Hery Haryanto Azumy, dan Muhammad Yusuf Chudlori, pada Senin (13/7/2026) di Kompleks Ligamas, Pancoran, Jakarta Selatan.

Gus Yusuf yang menjadi salah satu calon Ketua Umum PBNU, mengatakan organisasi tidak cukup hadir dalam forum seremonial. NU, menurut dia, harus mampu memberikan pendampingan nyata melalui penguatan tata kelola, kemitraan, dan program yang berdampak langsung bagi pesantren.

Dalam forum diskusi menjelang Muktamar NU, Gus Yusuf mengatakan pesantren saat ini menghadapi beragam tantangan. Persoalan itu antara lain menurunnya minat masyarakat, stigma yang muncul akibat sejumlah kasus yang menyeret nama pesantren, serta keterbatasan infrastruktur.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, ia menilai kehadiran organisasi belum dirasakan secara optimal oleh pesantren.

“Pesantren merasa sendirian menghadapi berbagai macam ujian ini. NU tidak pernah hadir, enggak pernah hadir mendampingi pesantren,” ujarnya.

Menurut Gus Yusuf, penguatan pesantren membutuhkan jejaring kerja sama yang sehat dengan berbagai pihak. Ia mencontohkan pengalamannya membangun rumah sakit melalui kemitraan dengan pihak swasta sebagai salah satu bentuk kolaborasi yang dapat memberikan manfaat nyata.

Namun, ia menekankan bahwa kerja sama dengan pihak luar harus dibangun dengan menjaga integritas dan tidak boleh menjadi ruang untuk menitipkan kepentingan pribadi.

“Tolonglah kalau kita pengin kerja sama dengan pihak ketiga, pihak luar, apalagi dengan teman-teman bisnis, ya jenengan harus bisa dijaga. Jangan durung-durung arep gawe rumah sakit wis ono sing saya titip materialnya ya, nanti ngambil saya, saya suplai anunya ya, lah fee-nya saya bagaimana. Ora usah ngurus kuilah,” tegasnya.

Baca Juga :  Gold Generation Institute Desak Promosi Miras Newport Diusut Terkait Dugaan Penistaan Agama

Pandangan tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pesantren saat ini oleh Aktivis Muda NU, Aden Farih. Menurut Aden, berbagai persoalan pesantren tidak cukup diselesaikan oleh masing-masing lembaga, tetapi membutuhkan organisasi yang hadir untuk mendampingi sekaligus membuka ruang kolaborasi.

“Saya tentu masih sangat muda dan masih harus banyak belajar. Tapi kalau diizinkan menyampaikan pandangan, saya melihat selama ini pesantren kerap menghadapi berbagai persoalan, mulai dari stigma negatif, persoalan infrastruktur, sampai tantangan pendidikan. Menurut saya, organisasi harus menjadi rumah yang mendampingi dan ikut mencari solusi, bukan hanya hadir ketika ada agenda seremonial,” kata Aden.

Aden juga menilai penguatan peran organisasi tidak dapat dipisahkan dari tata kelola dan integritas. Menurut dia, kepercayaan merupakan modal utama untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

“Menurut saya, kuncinya ada di integritas. Jangan sejak awal setiap kerja sama sudah dihitung untung-ruginya atau ada kepentingan pribadi yang ingin dititipkan. Kalau kepercayaan terjaga, kolaborasi untuk memperkuat pesantren akan datang dengan sendirinya,” ujarnya.

Karena itu, Aden menilai penguatan tata kelola dan pendampingan pesantren perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda NU ke depan. Kolaborasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, menurut dia, akan lebih mudah dibangun ketika organisasi mampu menjaga kepercayaan dan memastikan setiap kerja sama benar-benar diarahkan untuk kepentingan pesantren dan warga Nahdliyin.

Berita Terkait

KANCA Dukung Program Inkubasi UMKM SMESCO
Strategi Keluar dari “Jomblo Digital”
Diduga Digunakan untuk Modal BUMD, GSCI Desak Kejagung Usut Dana PEN DKI Rp5,8 Triliun
Kawal Kesejahteraan Rakyat, Move For Indonesia Gelar Dialog Publik
PKC PMII DKI Desak Polisi Usut Dugaan Pengeroyokan Kader PMII
Operasi Gabungan Ungkap 2,6 Ton Metamfetamin Cair di Kapal Berbendera Tanzania
Hasanuddin Wahid Dorong Kaderisasi NU Tak Berhenti di Jabatan Struktural
Kemenag Susun Pedoman Safeguarding untuk Perkuat Perlindungan Santri

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:12 WIB

KANCA Dukung Program Inkubasi UMKM SMESCO

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Strategi Keluar dari “Jomblo Digital”

Kamis, 24 September 2026 - 21:36 WIB

Diduga Digunakan untuk Modal BUMD, GSCI Desak Kejagung Usut Dana PEN DKI Rp5,8 Triliun

Minggu, 13 September 2026 - 13:29 WIB

Kawal Kesejahteraan Rakyat, Move For Indonesia Gelar Dialog Publik

Rabu, 2 September 2026 - 00:24 WIB

PKC PMII DKI Desak Polisi Usut Dugaan Pengeroyokan Kader PMII

Berita Terbaru

Daerah

Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api

Rabu, 21 Okt 2026 - 07:59 WIB