Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api

jas hitam-min

- Jurnalis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Koransatu, Surabaya – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda empat gunung di Jawa Timur bukan lagi sekadar bencana pegunungan. Asapnya telah merangsek ke permukiman warga, sementara operasi pemadaman udara (water bombing) yang dinanti justru tak kunjung tiba.

Berdasarkan data BPBD Jawa Timur, hingga Selasa (20/10/2026), empat titik karhutla masih membara: Gunung Bromo (Probolinggo), Gunung Arjuno-Welirang (Pasuruan-Malang), Gunung Sigiran (Mojokerto), dan kawasan Gunung Argopuro (Situbondo).

Asap Menusuk Hingga ke Rumah Warga

Di Kota Batu, warga Junggo, Jajang (49), menggambarkan kondisi yang ia sebut sebagai “kabut panas.” Asap dan abu dari kebakaran Gunung Arjuno membuat udara di sekitar permukiman terasa panas dan tidak nyaman. “Asapnya membuat tidak nyaman. Ditambah abunya membuat kotor,” ujarnya.

Jajang menyebut asap kadang terlihat seperti kabut, tetapi sensasinya berbeda. “Seperti kabut, tetapi terasa panas,” katanya. Pada malam hari, cahaya kemerahan dari kobaran api terlihat jelas dari tempat tinggalnya. Warga pun diminta waspada karena asap dapat menurunkan kualitas udara dan memicu gangguan pernapasan.

Di Petungombo, Desa Tambaksari, Kabupaten Pasuruan, api bahkan telah merembet ke area perkebunan milik warga. Jarak titik api dengan permukiman di Arjuno-Welirang tercatat sekitar 2–3 kilometer.

Water Bombing: Janji yang Terkendala Armada

Kritik paling keras justru datang dari realitas di lapangan. Hingga Selasa (20/10/2026), water bombing belum dilakukan untuk memadamkan karhutla di Jawa Timur. Alasannya bukan karena cuaca, melainkan karena helikopter masih beroperasi di Kalimantan.

“Water bombing belum dilakukan, sebab helikopter masih fokus menangani karhutla di Kalimantan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan armada. Sejak September 2026, Pemprov Jatim hanya mengandalkan satu helikopter water bombing. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim, Satriyo Nurseno, mengakui bahwa pihaknya telah mengajukan tambahan helikopter, tetapi hingga kini belum terealisasi. “Keterbatasan armada menjadi kendala utama di tengah medan terjal dan perubahan arah angin yang cepat,” ujarnya.

Baca Juga :  522 Pelajar DIY dan Jateng Ramaikan Kontes Roket Air di Jogja

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pun tak bisa diandalkan sepenuhnya. Sejak 9 September 2026, OMC skala besar dihentikan karena nihilnya pasokan awan potensial.

Korban Jiwa dan Luasan Terbakar

Kebakaran di Bromo telah memakan korban. Lima petugas gabungan dan relawan meninggal dunia saat berupaya memadamkan api: Sukaris (55) dan Hendra Rony Wagiyanata (33) dari TNBTS; Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19), karyawan hotel; serta Munawi (44), anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Seorang personel lain, Suraji (40), masih dirawat intensif di RSUD Dr Soetomo Surabaya akibat luka bakar.

Luasan wilayah terbakar di Bromo tercatat 75,37 hektare. Meski api di Bromo dilaporkan telah padam, kepulan asap masih terpantau di wilayah Penanjakan.

Peringatan Dini yang Tak Diindahkan

Satriyo menegaskan bahwa sekitar 90 persen karhutla di Jawa Timur dipicu aktivitas manusia—mulai dari puntung rokok yang dibuang sembarangan hingga perapian di tengah lahan kering. Sejumlah oknum pembakar di kawasan Bromo telah diamankan dan dijatuhi sanksi.

Sementara itu, para relawan dan petugas gabungan telah bertugas lebih dari sebulan dan dilanda kelelahan. Hingga kini, belum ada asuransi formal bagi relawan, meski Pemprov Jatim berkomitmen menjamin santunan jika terjadi musibah saat bertugas.

Kepala Pusat Lingkungan dan Mitigasi Bencana LPPM UMM, Dr. Heni Masruroh, menilai tidak ada metode tunggal untuk memadamkan karhutla. Ia menekankan pentingnya integrasi antara water bombing, pemadaman darat, sekat bakar, dan OMC, serta optimalisasi data penginderaan jauh untuk memetakan titik panas secara akurat.

Pertanyaan yang Menggantung

Ketika asap sudah mengepul di halaman rumah warga, ketika kebun warga mulai terbakar, dan ketika lima nyawa telah melayang, janji water bombing masih tertahan oleh keterbatasan armada dan prioritas alokasi helikopter. Warga Junggo hanya bisa berharap angin tidak bertiup kencang. “Semoga kali ini nggak ada angin kencang,” kata Jajang.

Baca Juga :  Meriahkan Dies Natalis ke-55, UKMKI ABM Sukses Gelar Tabligh Akbar Bersama Ribuan Jemaah

Harapan itu sederhana. Namun di baliknya, ada pertanyaan yang lebih besar: seberapa cepat negara hadir ketika asap sudah menyentuh permukiman, sebelum semuanya terlambat? (nh)

Berita Terkait

Mahjong di Kafe, Karawitan di Tepi: Soal Pintu Masuk, Bukan Selera
Lansia 80 Tahun Asal Pamekasan Dilaporkan Hilang Sejak Senin Pagi, Keluarga Minta Bantuan Warga
Jam Malam Pelajar di Purwakarta Tetap Berlaku, Satpol PP Intensifkan Pengawasan
Abaikan Hak Pekerja 11 Tahun, Manajemen Telkom Regional 1 Diduga Lakukan PHK Sepihak Secara Lisan
Gus Hilmy Dorong Pengelolaan Air Terpadu untuk Atasi Kekeringan di DIY
Lebih dari Sekadar Berwisata, Laras Triloka Mengajak Pengunjung Belajar dan Berinovasi
Bau Busuk di Saluran Warga, SPPG Karawang Wetan Milik Al- Jabbar Diduga Jadikan Got Pembuangan Limbah Cair, Ngaku Setoran 2juta Perbulan
Kecam Keras Dampak Mematikan Sound Horeg, Para Ulama dan Tokoh Jember Tuntut Bupati Terbitkan Larangan Total
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:46 WIB

Mahjong di Kafe, Karawitan di Tepi: Soal Pintu Masuk, Bukan Selera

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:59 WIB

Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Lansia 80 Tahun Asal Pamekasan Dilaporkan Hilang Sejak Senin Pagi, Keluarga Minta Bantuan Warga

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:40 WIB

Jam Malam Pelajar di Purwakarta Tetap Berlaku, Satpol PP Intensifkan Pengawasan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Abaikan Hak Pekerja 11 Tahun, Manajemen Telkom Regional 1 Diduga Lakukan PHK Sepihak Secara Lisan

Berita Terbaru

Daerah

Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api

Rabu, 21 Okt 2026 - 07:59 WIB