Kutukan (atau Keajaiban?) 6 Menit Per Kampus

Cerita Aku "Teleportasi" Keliling 5 Gedung UNAIR

d651f3b01ac39c943b51efac861faeab

- Jurnalis

Kamis, 24 September 2026 - 11:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

UNAIR Surabaya. (Foto: Dok/Ist).

UNAIR Surabaya. (Foto: Dok/Ist).

Koran Satu, Kolom – Sebagai mahasiswa Unair asli Dukun, Gresik, ada satu hal yang aku pelajari sejak semester awal: kelas jam 07.00 itu bukan cuma jadwal, itu ujian hidup — pertarungan antara selimut hangat dan panggilan takdir. Ini yang aku jalani sekarang, terutama buat kelas PDB 88 yang aku sayang banget sama temen-temen dan dosennya yang asik. Tapi pagi ini, ujian itu naik level jadi keajaiban. Entah gimana caranya, tapi ini beneran kejadian — dan sampai sekarang bulu kudukku masih berdiri kalau mengingatnya.

Semua berawal dari rasa penasaran receh jam sebelas malam. Aku sempet nanya Google, “gedung Unair ada berapa?” Jawabannya bikin aku melongo sampai hampir jatuh dari kasur: Unair gak punya jumlah gedung yang pasti, soalnya nyebar banget, resminya di 3 lokasi utama Surabaya plus beberapa kampus pengembangan di luar kota. Kirain kampusnya cuma satu di Surabaya doang, ternyata segede itu jangkauannya. Dan yang lebih bikin kaget — Gresik, kota kelahiranku sendiri, ternyata punya kampus Unair juga. Bangga? Bangga banget, sampai mau teriak ke seisi kamar kos. Kudet? Iya juga, level dewa kudet.

Jadi malam itu juga, dengan mata masih berbinar penasaran, aku mutusin buat keliling kampus-kampusnya satu-satu. Entah kesambet apa, tapi rasanya kayak ada suara di kepala yang bilang, “ayo, buktikan.”

Mulai dari tempat asal: Kampus Gresik di Kembangan, Kebomas. Jaraknya dari Desa Dukun sekitar 32,6 km, normalnya 50-60 menit motoran, apalagi jalanan Gresik yang kota industri, biasanya rebutan lajur sama truk molen pisang goreng tepung keju yang gede-gede kayak monster jalanan. Tapi entah kenapa, aku nyampe cuma 10 menit. Jalanan lengang, angin malam adem, motor kayak ngerti perasaanku. Mungkin karena aku emang jago motoran dan diam-diam ngebayangin molen anget di sepanjang jalan — laper emang bikin ajaib.

Baca Juga :  Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari sebagai Alat Berpikir Praktis dan Efisien

Terus aku baru nyadar sesuatu yang absurd: Dukun itu perbatasan sama Lamongan. Jadi Kampus Lamongan di Jl. Kusuma Bangsa cuma hitungan detik dari situ. Padahal jaraknya 23,4 km, harusnya 42 menitan lewat jalan Lamongan yang bolong-bolong kayak dompet yang belum dijahit, siap-siap goyang ala roller coaster gratis. Tapi karena aku tipe orang yang kuat ngadepin lubang jalan dan lubang hidup, 5 menit doang kelar — bahkan gak sempet dapet satu guncangan pun.

Nah, di sinilah aku baru sadar — jantung berdegup kencang — aku bukan anak Vokasi (D3/D4), aku anak FISIP, yang gedungnya ada di Kampus B, Dharmawangsa. Dari kost aku di Wonocolo bareng kakakku, jaraknya cuma 7,2 km. Kedengeran deket, tapi realitanya? Kalau jam berangkat kuliah atau pulang kerja, Jemursari sampai Manyar itu macetnya kayak dendam turun-temurun yang gak pernah lunas, normalnya setengah jam bikin emosi naik turun. Tapi pagi ini cuma 3 menit — pas banget buat kelas PDB jam 07.00, sampai aku sendiri melongo lihat jam tangan.

Terus, siang harinya panas Surabaya lagi puncak-puncaknya, matahari serasa nempel di ubun-ubun. Kentang-kentang banget rasanya, sampe keringet sama air mata rasanya keluar bareng-bareng cuma buat nikmatin perjalanan demi masa depan yang katanya ada di genggaman tangan — tapi kayaknya masa depan itu lagi ngumpet di antara asap knalpot.

Dari Kampus B untuk mata kuliah Prodi, kita geser berangkat dari kost ke Kampus C, Mulyorejo — Manajemen Unair. Normalnya 8,9 km, bisa 45 menit kalau jam sibuk, cukup buat bikin nafas naik turun karena stres. Tapi pagi itu jalanan kosong plek, lampu merah kompakan ijo semua, kayak semesta lagi baik hati. 6 menit doang, dan aku sampai dengan senyum lebar gak percaya.

Baca Juga :  Muktamar di Tambakberas: Ketika Kampung Bertanya, “Kami Kebagian Apa?”

Belum abis, drama belum selesai. Kamis malam Jumat aku biasanya ke Kampus A, Dharmahusada — bukan buat jadi calon dokter, tapi buat latihan padus yang seleksinya effort banget, sampe berasa hidup-matian (eh, mati-matian, keceplosan saking capeknya). Dari B ke A biasanya kena Lampu Merah Perempatan Dharmawangsa–Prof. Dr. Moestopo, lampu merah legendaris yang antrean belok kanannya panjang gara-gara arus dari Stasiun Gubeng sama Dharmahusada lebih diprioritaskan, plus macet imbas RSUD Dr. Soetomo dan proyek gorong-gorong. Gaadil banget rasanya, lampu merahnya lama pol tapi lampu hijaunya kaya dikejar setan, cuma sekejap terus merah lagi. Tapi hari itu? 30 detik doang, gak ada lampu merah yang nyangkut lama — rasanya kayak menang lotre.

Dan pulangnya, biasa kena Lampu Merah Perempatan Rungkut Madya yang kedipannya bisa nunggu 3 kali kedipan ijo sebelum bisa beneran jalan — bayangin, Sepanjang ekor dinosaurus kendaraan saat itu, jiwa raga udah lemes kena gas tugas dari segala arah, terus disuruh nunggu kedipan merah 3 ronde kayak diuji kesabaran level akhir. Padahal dulu 2 kali kedipan aja udah berasa lama, maklum masih pemula, belum jago nyelip. Tapi malam itu, 3 menit doang udah sampai kost, dan aku langsung rebahan sambil ketawa sendiri gak percaya.

Total waktu buat tiga kampus Surabaya, cuma hitungan menit doang. Cepet banget sampai rasanya gak masuk logika — mungkin ini dendamku sama lampu merah, yang kedip merahnya berasa sehari, kedip ijonya cuma semenit, akhirnya kebayar lunas malam itu.

Oke, terus aku kebangun.

Aku ngelirik kalender dengan jantung masih dag-dig-dug. Lah, gajadi tanggal merah. Jam udah nunjuk mendekati 07.00, dan kelas PDB 88 sebentar lagi mulai. Rasanya kayak disiram air es, tapi juga lega — ternyata cuma mimpi, walaupun mimpi paling seru yang pernah aku alami.

Baca Juga :  Menguatkan Pendapatan Daerah Melalui ZISWAF: Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi Lokal Berbasis Syariah

Jadi maaf ya kalau kalian nungguin tutorial cara teleportasi 6 menit per kampus — kayaknya cuma berlaku buat aku doang, dan cuma di alam yang gak jelas itu. Yang belum sempet aku kunjungi malah kampus FIKKIA di Banyuwangi. Mungkin lain kali, kalau lagi gak dikejar tugas dan tanggal beneran merah, aku bakal cari cara buat ke sana — meski kayaknya harus naik bus beneran, bukan mimpi.

Sekarang izin cabut dulu, soalnya kelas PDB udah manggil. Doain gak telat, ya!

 

*) Penulis adalah Nur Zahrotun Ainiyah, mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

Berita Terkait

NU 2045: Dari Kursi ke Karya
Setelah Muktamar Usai, Apa yang Tertinggal di Tambakberas
Racun Berseragam Sertifikat : Wajah Asli Tata Kelola MBG
Indonesia 81 Tahun, NU Sudah Seabad: Siapa Menjaga Siapa?
Politieke Onafhankelijkheid: Alam Tak Bisa Dibohongi “Londo Ireng”
Muktamar di Tambakberas: Ketika Kampung Bertanya, “Kami Kebagian Apa?”
Muktamar Peradaban, Saatnya NU Memimpin Abad Kedua
Falah: Menimbang Ulang Makna Sejahtera di Tengah Kelelahan Ekonomi Modern

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 11:38 WIB

Kutukan (atau Keajaiban?) 6 Menit Per Kampus

Minggu, 13 September 2026 - 12:13 WIB

NU 2045: Dari Kursi ke Karya

Jumat, 4 September 2026 - 13:01 WIB

Setelah Muktamar Usai, Apa yang Tertinggal di Tambakberas

Kamis, 3 September 2026 - 11:01 WIB

Racun Berseragam Sertifikat : Wajah Asli Tata Kelola MBG

Senin, 17 Agustus 2026 - 00:09 WIB

Indonesia 81 Tahun, NU Sudah Seabad: Siapa Menjaga Siapa?

Berita Terbaru

Mahasiswa KKN UINSU Desa Sempajaya Dusun III bersama pelaku UMKM dalam pelaksanaan program digitalisasi UMKM melalui pembuatan Google Maps dan QR Code pembayaran, Kamis (20/8/2026).

Pendidikan

Langkah Kecil Menuju Digital, KKN UINSU Dampingi UMKM Sempajaya

Senin, 28 Sep 2026 - 16:55 WIB