Koransatu, Yogyakarta – Pemerintah Kota Yogyakarta meluncurkan Akademi Pencegahan Stunting berbasis Outcome Based Learning (OBL) untuk meningkatkan kompetensi aparatur sipil negara (ASN) sekaligus mempercepat penurunan angka stunting. Program ini akan dievaluasi dalam enam bulan ke depan guna memastikan pembelajaran memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Peluncuran program dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Hotel Khas Tugu, Senin siang (12/10/2026). Akademi Pencegahan Stunting menjadi proyek percontohan penerapan Jogja Corporate University (Jogja Corpu), dengan pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada hasil dan penyelesaian persoalan di lapangan.
Hasto menegaskan, pengembangan kompetensi ASN tidak boleh berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Setiap program pembelajaran harus memiliki tema spesifik, target yang jelas, serta indikator keberhasilan yang dapat diukur.
Menurutnya, keberhasilan pelatihan seharusnya dinilai dari perubahan yang dihasilkan, baik terhadap kinerja organisasi maupun kondisi masyarakat.
“Kalau kita belajar susah-susah, berlatih dengan mengeluarkan tenaga, biaya, dan waktu, tetapi tidak ada perubahan, untuk apa? Makanya harus ada outcome yang bisa dibuktikan,” tegas Hasto.
Ia menjelaskan, pendekatan OBL dirancang agar pembelajaran ASN berkontribusi langsung terhadap penyelesaian persoalan prioritas daerah. Karena itu, Akademi Pencegahan Stunting ditetapkan sebagai salah satu program quick win yang hasilnya harus dapat dievaluasi secara konkret.
Pencegahan Stunting Sasar Kelompok Berisiko
Dalam upaya menekan angka stunting, Hasto menekankan pentingnya intervensi berdasarkan tingkat risiko masyarakat, bukan semata-mata kondisi ekonomi.
Pendampingan perlu diarahkan kepada kelompok yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk calon pengantin, ibu hamil, dan balita. Pendekatan tersebut diharapkan membuat upaya pencegahan lebih tepat sasaran dan memberikan hasil yang terukur.

Angka tersebut menunjukkan tren penurunan. Data pertengahan 2026 mencatat sekitar 764 dari 9.235 balita mengalami stunting, atau setara dengan 8,27 persen.
Melalui Akademi Pencegahan Stunting, Pemkot Yogyakarta berupaya memperkuat kapasitas aparatur yang bersentuhan langsung dengan masyarakat agar mampu mengidentifikasi persoalan, menentukan intervensi, dan menjalankan program pencegahan sesuai kebutuhan di wilayah masing-masing.
Diikuti 18 Pejabat Pengawas
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, mengatakan Akademi Pencegahan Stunting merupakan implementasi pembelajaran berbasis kinerja dalam pengembangan Jogja Corpu.
Melalui pendekatan tersebut, peningkatan kompetensi ASN diharapkan selaras dengan target organisasi dan kebijakan pemerintah daerah. Dengan demikian, hasil pembelajaran tidak hanya terlihat dari bertambahnya pengetahuan peserta, tetapi juga dari penerapannya dalam pelaksanaan tugas.

“OBL berorientasi pada hasil dan dikaitkan dengan penyelesaian permasalahan nyata dalam pelaksanaan tugas. Kami berharap peningkatan kompetensi ASN tidak berhenti di ruang kelas, namun benar-benar terhubung dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Budi.
Program percontohan ini diikuti 18 pejabat pengawas dari sejumlah wilayah dan perangkat daerah di Kota Yogyakarta.
Peserta terdiri atas tiga lurah, 12 kepala seksi pemberdayaan masyarakat di kelurahan, dua kepala jawatan sosial di kemantren, serta satu kepala seksi promosi kesehatan masyarakat pada Dinas Kesehatan.
Pemilihan peserta mempertimbangkan keterkaitan tugas dan kedekatan mereka dengan masyarakat. Dengan komposisi tersebut, hasil pembelajaran diharapkan dapat diterapkan secara langsung untuk memperkuat upaya pencegahan stunting di wilayah masing-masing.
Pembelajaran Berlangsung hingga Desember 2026
Akademi Pencegahan Stunting berlangsung pada 21 September hingga 23 Desember 2026, dengan total 409 jam pembelajaran.
Program ini mencakup sejumlah tahapan, mulai dari Overview Program, Mindset Builder, Problem Discovery, Pitch and Tool Performance, Matching Program, Execution Pass, Impact Showcase, hingga Monitoring dan Evaluasi.
Rangkaian tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan memahami persoalan, merancang solusi, menjalankan intervensi, serta menunjukkan dampak dari program yang dilaksanakan.
Evaluasi dalam enam bulan ke depan menjadi bagian penting untuk mengukur sejauh mana pembelajaran mampu mendorong perubahan nyata di masyarakat.
Melalui penerapan Outcome Based Learning, Pemkot Yogyakarta berharap pengembangan kompetensi ASN tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat efektivitas program pemerintah daerah, khususnya dalam menurunkan angka stunting.








Komentar