SURABAYA – Sebuah kain korden yang telah kehilangan fungsi awalnya mungkin mudah dianggap sebagai barang sisa. Namun, di tangan Jovita Vimala Hermawan, mahasiswa Universitas Ciputra, kain tersebut justru menjadi titik awal untuk menciptakan karya fashion yang membawa cerita tentang perubahan.
Kain korden tidak terpakai dari Saffier Decor itu diolah Jovita menjadi karya berjudul “Palimpsest of Renewal”. Melalui karya tersebut, ia mencoba menunjukkan bahwa sebuah material tidak harus kehilangan masa lalunya ketika memperoleh bentuk dan fungsi baru.
Gagasan itu berangkat dari konsep palimpsest, istilah yang merujuk pada sesuatu yang mengalami penulisan atau perubahan berulang, tetapi jejak sebelumnya tetap dapat ditemukan. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan Jovita melalui permainan lapisan, tekstur, transparansi, dan bentuk yang terinspirasi dari manuskrip lama, permukaan arsitektur yang memudar, serta jejak waktu.
“Sesuatu yang lama atau tidak digunakan lagi bukan berarti sudah tidak memiliki nilai. Seperti konsep Palimpsest of Renewal, sesuatu dapat berubah menjadi bentuk baru tanpa harus menghilangkan cerita yang sudah ada sebelumnya,” ujar Jovita.
Kain korden tersebut tidak sekadar dipotong dan dijahit kembali. Jovita mengeksplorasinya melalui teknik vertical origami, yakni membentuk lipatan secara berulang untuk menciptakan volume sekaligus memberikan efek gerak pada busana.
Eksplorasi kemudian dilanjutkan melalui patchwork dengan teknik Sashiko bermotif Kawung. Teknik jahit yang memiliki akar tradisi Jepang tersebut dipertemukan dengan motif Kawung yang dikenal dalam khazanah batik Indonesia. Pertemuan dua pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Jovita membangun identitas visual pada material yang sebelumnya tidak dirancang untuk menjadi busana.
Eksperimen juga dilakukan terhadap material lain. Tutup botol plastik bekas dipanaskan hingga membentuk lembaran tipis. Material tersebut kemudian dipotong dan digunakan sebagai sequins atau ornamen pada busana.
Proses itu menunjukkan bahwa tantangan dalam mengolah material bekas bukan hanya persoalan bagaimana menggunakannya kembali. Lebih dari itu, diperlukan proses untuk memahami karakter material, menemukan kemungkinan teknis, sekaligus menentukan cerita yang ingin disampaikan melalui desain.
Dosen Universitas Ciputra, Fabio Ricardo Toreh, mengatakan proses tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran desain.
“Mahasiswa tidak hanya belajar membuat bentuk yang menarik, tetapi juga belajar membaca karakter material, menghubungkannya dengan konsep, kemudian memberikan fungsi dan makna baru melalui desain,” kata Fabio.
Hal serupa disampaikan Christina Tanujaya, dosen Universitas Ciputra. Menurut dia, kekuatan karya Jovita terletak pada upaya mempertemukan material, teknik, dan identitas budaya dalam satu rancangan.
“Jovita tidak sekadar mengolah kembali material bekas, tetapi membangun hubungan antara material, teknik, dan cerita. Penggunaan vertical origami, Sashiko, serta motif Kawung membuat karya ini memiliki kedalaman karena setiap detail mempunyai alasan dan makna dalam keseluruhan konsep,” ujar Christina.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa praktik keberlanjutan dalam fashion tidak selalu berhenti pada penggunaan material ramah lingkungan. Ada pula proses untuk mempertanyakan kembali bagaimana sebuah material dipandang setelah fungsi utamanya berakhir.
Kain korden yang semula berada dalam konteks interior akhirnya masuk ke ruang fashion. Tutup botol yang sebelumnya menjadi bagian dari sampah plastik berubah menjadi elemen dekoratif. Sementara teknik dan motif dari latar budaya yang berbeda dipertemukan dalam satu karya.
Bagi Jovita, proses tersebut bukan sekadar memberikan fungsi baru kepada material lama. Ia ingin mempertahankan jejak yang telah melekat pada material sekaligus memberinya kesempatan untuk hadir dalam konteks yang berbeda.
Pada akhirnya, “Palimpsest of Renewal” tidak hanya berbicara tentang pakaian. Karya itu mengajak melihat kembali benda-benda yang selama ini cepat diberi label “bekas” atau “tidak terpakai”. Bisa jadi, yang berakhir bukanlah nilai sebuah material, melainkan cara manusia memandangnya.








Komentar