Koransatu.co, CILEGON – Kegagalan tak menghentikan langkah Muhammad Fana Afiroza. Siswa SMP Negeri 2 Cilegon itu akhirnya membuktikan kemampuannya dengan meraih juara pertama International Environmental Coding Competition 2026 tingkat Provinsi Banten. Prestasi tersebut sekaligus mengantarkannya melaju ke tingkat nasional.
Keberhasilan Fana bukan diraih dalam waktu singkat. Selama tiga tahun, ia terus mencoba mengikuti kompetisi tersebut. Perjalanannya penuh tantangan, termasuk ketika pada tahun sebelumnya ia belum berhasil melewati tahapan tes tulis. Namun, pengalaman itu tidak membuatnya menyerah untuk kembali berjuang.
Orang tua Fana, Riezka Budhi Mustika, mengaku bersyukur atas pencapaian putranya. Ia menilai keberhasilan tersebut menjadi buah dari ketekunan, proses belajar, dan ikhtiar yang terus dilakukan Fana, disertai doa serta izin Allah SWT.
“Alhamdulillah, berkat izin Allah SWT, Fana berhasil menjadi juara pertama tingkat Provinsi Banten dan mendapatkan tiket ke tingkat nasional. Sudah tiga tahun putra kami mencoba di ajang ini. Tahun lalu bahkan belum berhasil menembus babak tes tulis. Alhamdulillah, tahun ini Fana diizinkan Tuhan menembus level provinsi,” ujar Riezka.
Tantangan yang lebih besar kini menanti Fana di tingkat nasional. Ia akan berhadapan dengan peserta dari berbagai daerah, termasuk siswa SMA dari sekolah-sekolah unggulan. Sebagai pelajar SMP, Fana harus mempersiapkan diri untuk menghadapi persaingan lintas jenjang pendidikan yang tentu tidak mudah.
Meski demikian, keluarga berharap Fana tetap percaya diri dan tidak merasa kecil di hadapan para pesaingnya. Baginya, kesempatan melaju ke tingkat nasional merupakan ruang untuk menguji kemampuan sekaligus membuktikan bahwa usia dan jenjang pendidikan bukan alasan untuk berhenti berprestasi.
“Walaupun menghadapi para raksasa dari sekolah unggulan, kami berpesan kepada Fana bahwa dengan izin Allah SWT, tidak ada yang tidak mungkin. Kami minta Fana meneladani amanat Kanjeng Nabi Muhammad SAW untuk selalu mengenali kekuatan diri sendiri,” kata Riezka.
Ia juga berpesan agar Fana membawa kebanggaan daerah dalam perjuangannya di tingkat nasional. Menurutnya, tampil dalam kompetisi bukan hanya tentang mengejar kemenangan, tetapi juga kesempatan memperkenalkan identitas dan potensi Kota Cilegon kepada khalayak yang lebih luas.
“Sebagai siswa SMPN 2 Cilegon, Fana harus mengenali kekuatan sejarah dan membawa esensi heritage dari Kota Cilegon untuk bertanding, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga hingga internasional,” tuturnya.
Prestasi Fana diharapkan menjadi inspirasi bagi pelajar lainnya di Kota Cilegon dan Provinsi Banten. Perjalanannya menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Dengan ketekunan, kemauan untuk terus belajar, dan keberanian mencoba kembali, kesempatan meraih prestasi tetap terbuka.
Kini, setelah melewati perjuangan selama tiga tahun hingga menjadi juara pertama tingkat provinsi, Fana bersiap menghadapi babak berikutnya. Ia membawa harapan keluarga, sekolah, dan daerah untuk kembali menunjukkan kemampuan terbaiknya di panggung nasional.(*)








Komentar