Koransatu.co, LEBAK — Membangun generasi berkarakter tidak cukup dilakukan dengan memberikan materi pelajaran dan mengejar capaian akademik. Guru juga perlu menghadirkan proses belajar yang mendorong siswa berpikir kritis, memahami makna pembelajaran, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Pendekatan inilah yang ditekankan dalam integrasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah.
Pengawas Madrasah Kecamatan Malingping, Refi Risnandar, M.Pd., menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam Workshop Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Terintegrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi guru MTsS dan MAS se-Kecamatan Malingping. Kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Al Miftah, Cinagrog, Kecamatan Malingping, pada 19–20 Oktober 2026.
Dalam workshop tersebut, Refi menegaskan, guru memiliki peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang bukan hanya berfokus pada penyampaian materi, melainkan juga memperhatikan pengalaman dan perkembangan peserta didik.
Menurutnya, pembelajaran mendalam mendorong siswa memahami materi secara lebih utuh, berpikir kritis, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Sementara itu, Kurikulum Berbasis Cinta memberikan penguatan nilai agar proses pendidikan berlangsung dengan pendekatan yang menyenangkan, berkesadaran, dan humanis.
“Melalui integrasi deep learning dan Kurikulum Berbasis Cinta, kita ingin menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, berkesadaran, dan humanis. Pembelajaran mendalam mendorong siswa berpikir kritis dan kontekstual, sementara nilai-nilai cinta menjadi ruh yang menguatkan proses pendidikan,” jelas Refi.
Ia mengingatkan, pemahaman terhadap kedua pendekatan tersebut perlu diwujudkan dalam kegiatan belajar sehari-hari. Guru tidak cukup hanya memahami konsep secara teori, tetapi harus mampu menerjemahkannya menjadi rancangan dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Atas dasar itu, workshop dirancang dengan kegiatan praktik. Selama dua hari, para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga bekerja secara berkelompok untuk menyusun rancangan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta.
Para guru turut diarahkan mengembangkan modul ajar, menyusun asesmen yang lebih humanis, serta memilih metode yang memberi ruang kepada siswa untuk berpikir, berefleksi, berdialog, dan berpartisipasi aktif. Pendekatan ini diharapkan membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan peserta didik sekaligus mendukung pembentukan karakter.
Refi berharap, hasil workshop tidak berhenti sebagai dokumen atau pengetahuan baru bagi para guru. Ukuran keberhasilannya justru terletak pada penerapan di kelas dan perubahan pengalaman belajar yang dirasakan siswa.
“Yang paling penting adalah bagaimana apa yang dipelajari dalam workshop ini benar-benar dibawa ke ruang kelas. Guru dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, sehingga anak bukan hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang memiliki karakter dan kepedulian,” pungkasnya.*








Komentar