Koransatu, Jakarta — Tekanan terhadap saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi momentum krusial bagi manajemen untuk mengevaluasi ulang kualitas pelayanan, strategi komunikasi korporasi, serta mekanisme penanganan pengaduan nasabah. Di tengah ketatnya persaingan sektor perbankan, reputasi dan kepercayaan publik merupakan aset vital yang tidak boleh dianggap remeh.
Kritik tajam datang dari Ketua Gerakan Santri Cinta Indonesia (GSCI), Ahmadil Omri. Ia menyoroti lambatnya respons manajemen BCA dalam menghadapi berbagai keluhan nasabah yang kian ramai diperbincangkan di media sosial maupun portal berita daring. Menurutnya, kegagalan memberikan penjelasan memadai berpotensi melahirkan persepsi negatif publik terhadap perusahaan.
Ahmadil menilai, institusi perbankan sebesar BCA semestinya memiliki standar komunikasi krisis yang responsif, terukur, dan transparan—terutama ketika nasabah dihadapkan pada persoalan pelik seperti pemblokiran rekening atau pembatasan transaksi sepihak.
“Bank sebesar BCA tidak boleh menganggap keluhan nasabah sebagai persoalan kecil. Ketika nasabah sudah berkali-kali mencari penjelasan melalui kantor cabang, layanan pengaduan, bahkan melaporkan persoalannya kepada aparat penegak hukum, perusahaan harus memastikan ada kejelasan mengenai status pengaduan dan langkah penyelesaiannya,” tegas Ahmadil Omri dalam keterangan resminya, Senin (19/10/2026).
Soroti Kasus Pemblokiran Rekening dan Arus Jual Asing
Gelombang kritik ini bermula dari sejumlah aduan nasabah yang viral di ruang publik, mulai dari akun media sosial milik Felix Pernanda (@felixpernandaaa) hingga laporan terkait pembatasan transaksi yang melibatkan aparat penegak hukum seperti di BCA KCP Ponorogo.
Ahmadil menegaskan, meskipun beberapa pemblokiran dilakukan atas permintaan Bareskrim Polri atau dasar kepatuhan hukum, nasabah tetap berhak memperoleh kejelasan informasi dan prosedur yang transparan, alih-alih dibiarkan terkatung-katung tanpa kejelasan.
Di sisi lain, pergerakan saham BBCA turut tersorot setelah mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan lalu. Saham tersebut dilaporkan terkoreksi dari level Rp5.825 menuju Rp5.175 per saham, dibarengi aksi jual bersih (*net sell*) oleh investor asing senilai Rp2,32 triliun.
Kendati faktor pelemahan harga saham dipengaruhi dinamika pasar secara makro, Ahmadil mengingatkan bahwa komunikasi korporasi yang dipimpin oleh EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn harus mampu meredam ketidakpastian lewat transparansi informasi, alih-alih berlindung di balik pencapaian profit atau nama besar semata.
Peringatan Keras: Media Kecil Tak Boleh Diremehkan
Dalam catatannya, GSCI juga mengingatkan manajemen BCA agar tidak meremehkan peran media daring berskala kecil yang kerap menjadi garda terdepan dalam mengangkat suara-suara kelompok rentan atau nasabah yang terabaikan. Di era digital, satu keluhan kecil di media sosial dapat membesar dan berdampak langsung pada kredibilitas institusi.
“Jika manajemen ingin menjaga kepercayaan publik, pelayanan kepada nasabah harus ditempatkan sebagai prioritas. Sebab, kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun dapat menghadapi tekanan ketika nasabah merasa tidak memperoleh kepastian,” pungkas Ketua GSCI, Ahmadil Omri.
Sesuai dengan kode etik jurnalistik dan asas praduga tak bersalah, media ini tetap membuka ruang hak jawab, klarifikasi, maupun tanggapan resmi dari pihak manajemen PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terkait sorotan pelayanan dan dinamika saham tersebut.








Komentar