GSCI Kecam Dugaan KKN di Kemendikdasmen, Minta APH Segera Turun Tangan

Kecam Dinasti Pejabat di Kemendikdasmen, GSCI Desak APH Usut Proyek Triliunan Rupiah

- Jurnalis

Kamis, 24 September 2026 - 22:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) (Dok: Istimewa)

Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) (Dok: Istimewa)

Koran Satu, Jakarta – Gerakan Santri Cinta Negeri (GSCI) melontarkan kecaman keras terhadap dugaan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang dinilai makin menggurita di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI.

GSCI mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk tidak tinggal diam dan segera turun tangan mengusut tuntas dugaan penyalahgunaan wewenang tersebut.

Ketua GSCI, Ahmadil Omri, menilai sektor pendidikan yang seharusnya menjadi benteng moral bangsa justru terindikasi menjadi ladang bancakan anggaran oleh oknum pejabat internal demi kepentingan kelompok dan keluarga.

“Kami mengecam keras dugaan praktik ‘kerajaan nepotisme’ dan pengondisian proyek di Kemendikdasmen. Pendidikan ini milik rakyat, bukan milik keluarga atau dinasti pejabat tertentu! APH harus segera bergerak, lakukan pemeriksaan, dan jangan menunggu sampai uang negara ludes,” tegas Ahmadil Omri kepada jurnalis di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Soroti Hubungan Kakak-Adik di Lingkaran Strategis

GSCI menyoroti tajam dugaan konflik kepentingan yang dinilai amat telanjang dalam penempatan jabatan strategis. Keberadaan Didik Suhardi sebagai Staf Khusus Menteri dan adiknya, Gogot Suharwoto, yang menjabat sebagai Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, dinilai berpotensi kuat merusak objektivitas pengadaan barang dan jasa.

“Ketika posisi penting diisi oleh hubungan kakak-adik, potensi konflik kepentingan sangat besar. Kebijakan pengadaan bernilai triliunan rupiah rawan disetir demi menguntungkan lingkaran sendiri. Ini adalah bentuk nepotisme yang merusak prinsip tata kelola pemerintahan yang bersih,” tambah Ahmadil.

Kecam Pengondisian Smartboard dan Laptop Rekondisi

Tak hanya masalah posisi jabatan, GSCI juga mengutuk keras dugaan rekayasa dalam pengadaan Interactive Flat Panel (IFP) atau smartboard bernilai triliunan rupiah untuk Tahun Anggaran 2025 dan 2026.

Pengadaan tersebut disinyalir sengaja dikunci menggunakan spesifikasi merek tertentu lewat skenario market sounding tertutup guna menyingkirkan vendor lain.

Baca Juga :  Potret Nyata Indonesia di Mata Asing: Peluang Ekonomi dan Budaya

GSCI juga menyindir keras pengadaan laptop dan peranti digitalisasi sekolah TA 2025 yang diduga menggunakan barang rekondisi namun dibayar dengan harga penuh uang negara.

“Sangat zalim jika anggaran digitalisasi sekolah justru dipakai untuk membeli barang-barang rekondisi bermasalah. Negara membayar mahal, tetapi sekolah-sekolah di daerah diberikan barang berkualitas rendah. Di mana nurani para pejabat ini?” ujarnya dengan nada geram.

Desak APH Segera Geledah dan Lakukan Audit Forensik

Atas rentetan dugaan penyimpangan tersebut, GSCI mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung, dan Kepolisian RI untuk segera mengambil langkah hukum secara proaktif tanpa harus menunggu formalitas.

“APH jangan hanya pasif di balik meja. Segera turun tangan, lakukan audit forensik, lacak dugaan aliran dana kickback, dan periksa seluruh pejabat yang terlibat! Jika terbukti ada permainan anggaran dan korupsi, seret semua pelakunya ke penjara. Sektor pendidikan tidak boleh dijadikan arena berburu rente,” pungkas Ahmadil.

Berita Terkait

Langkah Kecil Menuju Digital, KKN UINSU Dampingi UMKM Sempajaya
Mendorong UMKM Naik Kelas Melalui Legalitas Usaha dan Pengembangan Bisnis, KPB-PKL FEB UNISMU di Desa Cileunca Resmi Ditutup
Dinilai Gagal Mengawasi Sektor Perbankan, GSCI Desak DPR dan Presiden Copot Dian Ediana Rae dari OJK
Dinilai Picu Kemungkaran dan Ganggu Rakyat, Tokoh NU dan Kiai Pasuruan Desak Pemkab Haramkan Sound Horeg!
Dugaan Penyimpangan Dana BOS Kinerja: Wali Murid Desak Polres Agara Usut Pelatihan “Abal-Abal” SMPN Perisai!
Jadikan Masjid Pusat Perdamaian Global, Indonesia Gelar International Grand Imams Conference 2026
Rekrutan Mewah! Marselino Ferdinan Resmi Berkostum Persija Jakarta
Soal Kredit Macet, GSCI Desak OJK Usut Tuntas Potensi Suap di Perbankan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:55 WIB

Langkah Kecil Menuju Digital, KKN UINSU Dampingi UMKM Sempajaya

Minggu, 27 September 2026 - 19:00 WIB

Mendorong UMKM Naik Kelas Melalui Legalitas Usaha dan Pengembangan Bisnis, KPB-PKL FEB UNISMU di Desa Cileunca Resmi Ditutup

Kamis, 24 September 2026 - 12:50 WIB

Dinilai Gagal Mengawasi Sektor Perbankan, GSCI Desak DPR dan Presiden Copot Dian Ediana Rae dari OJK

Kamis, 24 September 2026 - 10:07 WIB

Dinilai Picu Kemungkaran dan Ganggu Rakyat, Tokoh NU dan Kiai Pasuruan Desak Pemkab Haramkan Sound Horeg!

Kamis, 24 September 2026 - 08:04 WIB

Dugaan Penyimpangan Dana BOS Kinerja: Wali Murid Desak Polres Agara Usut Pelatihan “Abal-Abal” SMPN Perisai!

Berita Terbaru

Mahasiswa KKN UINSU Desa Sempajaya Dusun III bersama pelaku UMKM dalam pelaksanaan program digitalisasi UMKM melalui pembuatan Google Maps dan QR Code pembayaran, Kamis (20/8/2026).

Pendidikan

Langkah Kecil Menuju Digital, KKN UINSU Dampingi UMKM Sempajaya

Senin, 28 Sep 2026 - 16:55 WIB