Koran Satu, Purwakarta – Pelepah pisang yang biasanya hanya menjadi limbah dimanfaatkan siswa SMP Negeri 1 Sukatani, Kabupaten Purwakarta, sebagai bahan praktik pembelajaran. Dari bahan tersebut, siswa belajar sains sekaligus menerapkan materi teks prosedur melalui kegiatan yang menggabungkan pendekatan Tatanén di Bale Atikan (TdBA) dan Team Teaching.
Kegiatan melibatkan ratusan siswa dari kelas IX A, IX B, IX C, IX E dan VIII G. Mereka tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi turun langsung ke lingkungan sekitar untuk mengambil dan mengolah pelepah pisang menjadi ekstrak.
Siswa bekerja dalam kelompok dengan membagi tugas mulai dari memilih pelepah, mengambil bagian yang masih muda, memotong, mencacah hingga menghaluskannya menggunakan blender. Total bahan pelepah pisang yang diolah dalam praktik tersebut mencapai sekitar 15 kilogram.
Kepala SMPN 1 Sukatani, H. Patoni, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar siswa mengalami langsung proses pembelajaran, bukan hanya memahami materi melalui teori.
“Yang paling utama, pembelajaran ini merupakan implementasi dari kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tentang Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning. Jadi, anak-anak tidak hanya mendapatkan materi, tetapi mengalami langsung proses pembelajarannya sehingga apa yang dipelajari menjadi lebih bermakna,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pelepah pisang digunakan sebagai objek praktik materi teks prosedur. Siswa belajar memahami urutan langkah kerja sekaligus menerapkannya secara langsung ketika mengolah bahan.
Mereka harus mengikuti tahapan secara runtut, mulai dari menyiapkan bahan, menentukan bagian pelepah yang digunakan, melakukan pemotongan hingga proses penghalusan. Aktivitas tersebut kemudian menjadi pengalaman nyata untuk memahami bagaimana sebuah prosedur disusun dan dijalankan.
Sementara dalam pelajaran IPA, siswa mempelajari bahan organik dan konsep penguraian atau dekomposisi. Pemanfaatan pelepah pisang juga menjadi contoh bagaimana lingkungan sekitar dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran sains.
Pengolahan dilakukan tanpa mesin pencacah. Pelepah yang berasal dari dua pohon pisang dengan buah yang telah matang terlebih dahulu dipilah. Bagian dalam yang masih muda dipilih karena lebih mudah diproses, kemudian dipotong kecil-kecil sebelum dihaluskan menggunakan blender hingga menghasilkan ekstrak.
Kegiatan tersebut menerapkan Team Teaching, yakni beberapa guru dari mata pelajaran berbeda terlibat dalam satu proses pembelajaran. Sedikitnya empat guru Bahasa Indonesia, dua guru IPA, satu guru IPS dan satu guru TIK ikut mendampingi kegiatan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dikoordinasikan Yayah Ratna Sari Dewi bersama guru Bahasa Indonesia lainnya. Sementara pembelajaran IPA dikoordinasikan H. Rohibin.
H. Patoni mengatakan keterlibatan guru lintas mata pelajaran membuat satu kegiatan dapat dipelajari dari berbagai sudut pandang. Siswa tidak hanya melihat pelepah pisang sebagai bahan praktik, tetapi juga belajar bahasa, sains, teknologi, kerja sama dan keterampilan dalam satu rangkaian kegiatan.
Pendekatan tersebut juga dikaitkan dengan Tatanén di Bale Atikan (TdBA) yang mendorong pemanfaatan lingkungan dan kearifan lokal sebagai bagian dari proses pendidikan.
“Ini juga merupakan implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Purwakarta Nomor 9 Tahun 2021 yang menyuratkan pendidikan berkearifan lokal. Karena itu, kami mencoba mengambil sesuatu yang ada di lingkungan sekitar dan menjadikannya sebagai bagian dari proses pembelajaran,” katanya.
Menurut Patoni, pembelajaran berbasis lingkungan memberi kesempatan kepada siswa untuk melihat bahwa benda-benda yang ada di sekitar mereka dapat memiliki nilai edukatif. Dengan begitu, materi yang dipelajari di sekolah tidak berhenti pada hafalan.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya memahami teori. Mereka juga belajar bekerja sama, mengikuti prosedur, berpikir secara ilmiah dan memahami bahwa apa yang ada di lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar,” tuturnya.








Komentar