Kritik Yudi Latif dan Hendrajit Dinilai Jadi Bahan Evaluasi Jelang Muktamar NU

- Jurnalis

Minggu, 28 Juni 2026 - 21:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Andi Najmi Fuaidi, Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU periode 2010–2015. (Foto: Ist)

Andi Najmi Fuaidi, Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU periode 2010–2015. (Foto: Ist)

Koran Satu, Jakarta – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), mantan Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU periode 2010–2015, Andi Najmi Fuaidi, mengajak warga Nahdliyin menjadikan kritik yang disampaikan Yudi Latif dan Hendrajit sebagai bahan refleksi untuk memperkuat arah perjalanan organisasi.

Menurut Andi, tulisan Jalan Redup Agama: Catatan untuk Munas-Konbes NU karya Yudi Latif dan NU Nyata Tapi Tidak Aktual karya Hendrajit merupakan masukan penting bagi masa depan NU. Ia menilai kritik tersebut lahir dari kepedulian terhadap organisasi, bukan untuk melemahkan atau menyerangnya.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bung Yudi Latif dan Bung Hendrajit. Pandangan mereka sangat realistis dan patut dijadikan bahan kontemplasi bagi jajaran tanfidziyah maupun syuriyah PBNU,” ujar Andi.

Andi menyebut sedikitnya ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian NU menjelang Muktamar.

Pertama, menjaga jarak moral dengan kekuasaan. Mengutip pandangan Yudi Latif, ia mengingatkan bahwa kedekatan lembaga keagamaan dengan kekuasaan berpotensi mengurangi independensi organisasi apabila agama hanya dijadikan legitimasi politik atau simbol seremonial. Menurutnya, NU harus tetap menjalankan fungsi sebagai kekuatan moral yang berani mengoreksi penyimpangan, bukan sekadar membenarkan kebijakan penguasa.

Kedua, mengaktualisasikan tradisi, bukan sekadar melestarikannya. Andi sependapat dengan pandangan Hendrajit bahwa NU memiliki kekuatan besar dari sisi jumlah anggota, tetapi harus mampu menghadirkan tradisi keislaman sebagai jawaban atas berbagai tantangan masyarakat modern, mulai dari perkembangan era digital hingga krisis sosial dan budaya. Tradisi NU, kata dia, perlu terus direvitalisasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Ketiga, mengatasi krisis imajinasi dan inspirasi dalam kepemimpinan organisasi. Menurut Andi, tantangan terbesar NU saat ini bukan terletak pada keterbatasan sumber daya finansial maupun intelektual, melainkan pada minimnya visi dan keberanian membangun imajinasi masa depan. Tanpa itu, organisasi berisiko kehilangan arah dan jati dirinya.

Baca Juga :  Skandal Korupsi Tata Kelola Nikel: Kejagung Periksa Saksi ESDM Usai Tetapkan PT Ceria Nugraha Indotama (PT CNI) Sebagai Tersangka Korporasi

Dalam refleksinya, Andi juga mengutip pesan Abu Hamid al-Ghazali yang kembali disampaikan Yudi Latif. Pesan tersebut menyebut bahwa kerusakan masyarakat berawal dari rusaknya pemimpin, sedangkan rusaknya pemimpin bersumber dari rusaknya ulama yang terjebak pada kecintaan terhadap harta dan kedudukan. Menurut Andi, nasihat itu tetap relevan sebagai pengingat moral bagi para pemimpin umat.

Ia berharap Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi forum yang diisi agenda politik maupun kegiatan seremonial. Muktamar, kata Andi, harus menjadi momentum untuk mengembalikan independensi jam’iyah, menghidupkan kembali semangat amar makruf nahi mungkar, serta merumuskan strategi kebudayaan agar tradisi NU tetap aktual dan kontekstual di tengah perubahan zaman.

“Mari kita jadikan kritik ini sebagai jamu yang pahit, tetapi menyehatkan. Kritik yang lahir dari rasa cinta akan selalu menjadi bekal terbaik untuk memperkuat NU menghadapi masa depan,” pungkas Andi.

Berita Terkait

Putusan MA soal Suket Gibran, Soleman Ponto Ulas Syarat Pendidikan dalam UU Pemilu
Skandal Limbah Smelter Kuala Tanjung, FKK Desak Bareskrim dan Kejagung Periksa Direksi PT Inalum Tanpa Terkecuali
FKK Desak KPK Usut Tuntas Menteri Berinisial “RAMA” yang Namanya Disebut dalam Sidang Eks Wamen Imipas Silmy Karim
Dalang Suap Rp20,6 Miliar Terungkap: Dirut PT Oktasan Baruna Persada Tria Belltitonito Disebut Jadi Otak Penyerahan Uang ke Febrie Ardiansyah
Skandal Korupsi Tata Kelola Nikel: Kejagung Periksa Saksi ESDM Usai Tetapkan PT Ceria Nugraha Indotama (PT CNI) Sebagai Tersangka Korporasi
Perpres 107/2026 Alihkan Impor ke Negara: Apa yang Berubah dari Pertamina?
Dinilai Gagal Total Pimpin BUMN Telekomunikasi, FKK Desak Pencopotan Dirut Telkom Nanang Hendarno
Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Munajat Santri untuk Negeri di Istiqlal

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 14:09 WIB

Putusan MA soal Suket Gibran, Soleman Ponto Ulas Syarat Pendidikan dalam UU Pemilu

Minggu, 1 November 2026 - 09:53 WIB

Skandal Limbah Smelter Kuala Tanjung, FKK Desak Bareskrim dan Kejagung Periksa Direksi PT Inalum Tanpa Terkecuali

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:33 WIB

FKK Desak KPK Usut Tuntas Menteri Berinisial “RAMA” yang Namanya Disebut dalam Sidang Eks Wamen Imipas Silmy Karim

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:07 WIB

Dalang Suap Rp20,6 Miliar Terungkap: Dirut PT Oktasan Baruna Persada Tria Belltitonito Disebut Jadi Otak Penyerahan Uang ke Febrie Ardiansyah

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:47 WIB

Skandal Korupsi Tata Kelola Nikel: Kejagung Periksa Saksi ESDM Usai Tetapkan PT Ceria Nugraha Indotama (PT CNI) Sebagai Tersangka Korporasi

Berita Terbaru