Redam Polemik Alun-alun Kepanjen, Bupati Sanusi Sebut Tiga Opsi Lahan Sedang Dimatangkan

5cc3f6674ad8de65983a714f805c70fc

- Jurnalis

Minggu, 28 Juni 2026 - 13:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Kabupaten Malang, Bapak Sanusi Bersama DPRD Kabupaten Malang saat Survey Kandidat Lokasi Alun-alun Kepanjen (Dok: Istimewa)

Bupati Kabupaten Malang, Bapak Sanusi Bersama DPRD Kabupaten Malang saat Survey Kandidat Lokasi Alun-alun Kepanjen (Dok: Istimewa)

Koran Satu, Malang – Bupati Malang, Muhammad Sanusi, akhirnya buka suara guna meredam polemik sengit yang tengah menggelinding di gedung DPRD Kabupaten Malang terkait rencana pembangunan Alun-alun Kepanjen. Langkah ini diambil untuk menenangkan pro-kontra antar-fraksi dewan yang meributkan penentuan titik lokasi proyek.

Bupati Sanusi enggan membeberkan secara detail calon lokasi final proyek tersebut. Namun, ia memastikan bahwa pemerintah daerah saat ini sedang mematangkan perencanaan di antara tiga opsi lokasi yang disodorkan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda).

“Sedang dimatangkan perencanaannya,” tegas Bupati Sanusi untuk menjawab perdebatan di kalangan anggota legislatif, Minggu (28/6/2026).

Berdasarkan data dari Bappeda, proyek yang bakal menjadi wajah baru ibu kota Kabupaten Malang ini memiliki tiga alternatif lokasi. Opsi pertama berada di belakang Stadion Kanjuruhan, opsi kedua di sebelah barat stadion, dan opsi ketiga terletak di antara gedung Islamic Center dengan kantor BPBD yang berada tepat di seberang jalan depan stadion.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Budiar, membenarkan adanya tiga pilihan lokasi tersebut. Menurutnya, tim teknis pemerintah daerah masih melakukan kajian mendalam karena setiap titik memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Dewan Ingatkan Status Keamanan Lahan Proyek

Rencana pembangunan alun-alun seluas 3 hektare (Ha) ini memantik perhatian serius dari berbagai pihak. Koordinator LSM Pro Desa, Achmad Kusairi, langsung menggelar diskusi bersama sejumlah anggota dewan, termasuk politisi Fraksi Nasdem, Agung Dwi Susanto.

Agung menyatakan bahwa fraksinya tidak mempermasalahkan di mana pun lokasi akhir alun-alun tersebut. Namun, ia memberikan catatan kritis agar pemerintah daerah memastikan status hukum lahan tersebut benar-benar aman dan bukan merupakan Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD).

“Sebab, proyek ini akan menjadi *legacy* (warisan) dari Pak Bupati. Oleh karena itu, letak alun-alun harus strategis dan mudah dijangkau masyarakat dari berbagai arah,” tutur Agung.

Baca Juga :  Sembunyikan Kekayaan? Dirut PT PPSU Diduga Belum Laporkan LHKPN, LPKP Minta Bobby Nasution Evaluasi!

LSM Pro Desa Soroti Anggaran Rp 400 Miliar dan Hibah Lahan UB

Di sisi lain, Koordinator LSM Pro Desa, Achmad Kusairi, mengkritik keras skema pengadaan proyek yang diperkirakan bakal menelan anggaran fantastis hingga Rp 400 miliar tersebut. Ia menilai kebijakan Pemkab Malang memiliki kejanggalan yang nyata.

Kusairi menyoroti keputusan pemda yang berencana meminjam dana ke Bank Jatim untuk membeli lahan alun-alun, padahal di saat yang sama pemda justru menghibahkan aset tanahnya secara gratis seluas 35 Ha kepada pihak lain.
Aset tanah yang lepas secara cuma-cuma tersebut diperuntukkan bagi pembangunan kampus Universitas Brawijaya (UB) di Dusun Tegaron, Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen.

“Kok aneh, pemerintah bisa memberikan lahan gratis seluas itu, tetapi giliran mau membuat alun-alun saja kebingungan sampai memicu keributan antar-anggota dewan,” pungkas Kusairi.

Berita Terkait

Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api
Lansia 80 Tahun Asal Pamekasan Dilaporkan Hilang Sejak Senin Pagi, Keluarga Minta Bantuan Warga
Om Dase Apresiasi Pak Guru Salim, Dorong Pengobatan Gratis Rutin untuk Warga Koranji
Jam Malam Pelajar di Purwakarta Tetap Berlaku, Satpol PP Intensifkan Pengawasan
Abaikan Hak Pekerja 11 Tahun, Manajemen Telkom Regional 1 Diduga Lakukan PHK Sepihak Secara Lisan
Gus Hilmy Dorong Pengelolaan Air Terpadu untuk Atasi Kekeringan di DIY
Lebih dari Sekadar Berwisata, Laras Triloka Mengajak Pengunjung Belajar dan Berinovasi
Bau Busuk di Saluran Warga, SPPG Karawang Wetan Milik Al- Jabbar Diduga Jadikan Got Pembuangan Limbah Cair, Ngaku Setoran 2juta Perbulan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:59 WIB

Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Lansia 80 Tahun Asal Pamekasan Dilaporkan Hilang Sejak Senin Pagi, Keluarga Minta Bantuan Warga

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 21:42 WIB

Om Dase Apresiasi Pak Guru Salim, Dorong Pengobatan Gratis Rutin untuk Warga Koranji

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:40 WIB

Jam Malam Pelajar di Purwakarta Tetap Berlaku, Satpol PP Intensifkan Pengawasan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Abaikan Hak Pekerja 11 Tahun, Manajemen Telkom Regional 1 Diduga Lakukan PHK Sepihak Secara Lisan

Berita Terbaru

Daerah

Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api

Rabu, 21 Okt 2026 - 07:59 WIB