Koransatu.co, PANDEGLANG – Hamparan daun pisang sepanjang kurang lebih 50 meter menjadi ruang kebersamaan bagi ribuan santri di Alun-alun Pandeglang, Kamis (22/10/2026). Melalui tradisi ngalokat liwet, para peserta Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tidak sekadar menikmati nasi liwet bersama, tetapi juga merawat keakraban dan persaudaraan di tengah keberagaman pesantren.
Tradisi tersebut menjadi salah satu momen yang mewarnai peringatan HSN ke-12 tingkat Kabupaten Pandeglang. Di antara rangkaian upacara, pawai ta’aruf, dan pertunjukan seni, ngalokat liwet menghadirkan pesan sederhana bahwa kebersamaan merupakan bagian penting dari kehidupan santri.
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan tahun ini menjadi momentum untuk meneguhkan kontribusi santri dalam menjaga nilai keagamaan, memperkuat persatuan, serta mengambil bagian dalam pembangunan bangsa.
Upacara yang dimulai pukul 07.00 WIB dipimpin langsung oleh Bupati Pandeglang R. Dewi Setiani. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Banten H. Achmad Dimyati Natakusumah,Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan pondok pesantren, pegawai Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang, serta ribuan santri dari berbagai pesantren.
Ketua Panitia Pelaksana HSN ke-12 tingkat Kabupaten Pandeglang, Muamar, menjelaskan bahwa peringatan Hari Santri tahun ini telah dimulai sejak 15 Oktober 2026 melalui Istighotsah Kubro dan peluncuran rangkaian kegiatan di Masjid Agung Ar-Rahman Pandeglang.
“Kegiatan juga diisi dengan jalan sehat sarungan di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten,” terang Muamar.
Setelah upacara, suasana peringatan berlanjut dengan pawai ta’aruf atau defile yang melibatkan santri serta siswa dari berbagai lembaga pendidikan. Penampilan Paskibraka, drum band Pondok Pesantren KUN Karima Latansa 3, dan paduan suara Pondok Pesantren Turus Pandeglang turut menyemarakkan kegiatan.
Namun, kemeriahan acara tidak hanya ditentukan oleh penampilan di panggung maupun barisan peserta pawai. Keterlibatan santri dalam kepanitiaan juga menjadi bagian dari penyelenggaraan peringatan tersebut. Panitia mengapresiasi para santri yang turut membantu persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
“Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa santri tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga berperan aktif dalam menyukseskan peringatan Hari Santri,” ujar Muamar.
Menurut Muamar, tradisi ngalokat liwet menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan antarpeserta dari berbagai latar belakang pesantren dan lembaga pendidikan. Makan bersama di atas hamparan daun pisang menghadirkan ruang perjumpaan yang akrab, sekaligus menjaga tradisi lokal tetap hidup di tengah masyarakat.
“Tradisi tersebut bukan sekadar agenda makan bersama. Di tengah keberagaman latar belakang pesantren dan lembaga pendidikan, ngalokat liwet menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, membangun keakraban, sekaligus melestarikan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat dan lingkungan pesantren,” tambah Muamar.
Melalui peringatan HSN 2026, Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang berharap semangat santri dalam menuntut ilmu, menjaga akhlak, membangun kemandirian, dan mengabdi kepada masyarakat semakin menguat. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi santri untuk berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Bagi Muamar, semangat Hari Santri perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dirayakan melalui kegiatan seremonial.
“Semangat Hari Santri pun tidak berhenti pada seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat bahwa santri memiliki peran strategis dalam merawat persatuan, menjaga nilai keagamaan, dan ikut menyiapkan generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045,” tandas Muamar.*








Komentar