Merawat Diri dan Budaya, JCWF 2026 Hadir di Yogyakarta pada November

Yogyakarta yang memadukan kekayaan budaya, tradisi, dan aktivitas wellness sebagai gambaran Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 yang mengusung tema “RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing”.

- Jurnalis

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kanjeng Ratu Bendara bersama para tamu undangan dan pihak penyelenggara dalam rangkaian Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 yang mengusung tema “RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing” di Yogyakarta.

Kanjeng Ratu Bendara bersama para tamu undangan dan pihak penyelenggara dalam rangkaian Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 yang mengusung tema “RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing” di Yogyakarta.

Koran Satu, Yogyakarta, 21 Oktober 2026 – Di tengah ritme hidup yang kian cepat, Yogyakarta menawarkan jeda. Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 hadir pada 6-8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta dengan tema “RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing”. Festival keempat ini mengajak setiap orang pulang pada tiga hal yang kerap terlupa: sesama manusia, akar budaya, dan keseimbangan diri.

Di balik ajakan yang teduh itu ada langkah strategis. Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menegaskan bahwa November dipilih dengan sengaja.

“November adalah bulan sepinya Jogja, sehingga harapannya ini menjadi salah satu kegiatan yang tiap tahunnya akan bertambah besar dan bisa menaikkan low season-nya kita di Jogja,” ujar GKR Bendara dalam keterangan pers, Rabu (21/10/2026).

Kepemimpinan yang Membaca Peluang dari Kesunyian

Bagi GKR Bendara, masa sepi bukan kekosongan, melainkan ruang untuk menumbuhkan sesuatu yang bermakna. Di bawah kepemimpinannya, BPPD DIY memosisikan wisata kebugaran berbasis budaya sebagai alasan baru bagi wisatawan untuk datang ke Yogyakarta, yaitu pengalaman yang meninggalkan kesan, bukan sekadar kunjungan.

Gagasan ini tumbuh dari tahun ke tahun. GKR Bendara menggambarkan lompatan arah festival dengan sederhana:

“Tahun lalu kita baru mengenalkan saja, tapi tahun ini benar-benar kita mengkoneksikan itu.”

Dari perkenalan menuju koneksi nyata antara komunitas, industri, dan wisatawan.

Satu Lokasi, Tiga Hari, Satu Pengalaman Utuh

Tahun ini JCWF dipusatkan di satu lokasi selama tiga hari berturut-turut. Format ini menggantikan penyelenggaraan sebelumnya yang tersebar pada setiap Sabtu sepanjang November. Perubahan tersebut lahir dari mendengarkan wisatawan, yang ingin menikmati lebih banyak kegiatan dalam satu kali kunjungan.

Baca Juga :  522 Pelajar DIY dan Jateng Ramaikan Kontes Roket Air di Jogja

Rangkaian festival berjalan dalam dua tahap:

  • Jumat, 6 November 2026 (sore): pertemuan jejaring, Pentahelix Forum, dan pembukaan festival. Komunitas wellness bertemu pengelola hotel, biro perjalanan, restoran, pemilik tempat kegiatan, serta unsur pemerintah dan akademisi. Komunitas membawa keahlian dan program, sementara industri membuka akses fasilitas dan pasar wisatawan. Tujuannya agar kolaborasi berlanjut menjadi produk wisata setelah festival usai.
  • 7-8 November 2026: program pengalaman utama untuk para pengunjung.

Skala Persiapan yang Matang

JCWF 2026 menyiapkan 85 program, 14 di antaranya dapat diikuti tanpa biaya, sehingga ruang kebugaran budaya ini terbuka lebih luas. Festival ini juga menghimpun 97 komunitas dan mitra terkurasi: 65 praktisi wellness dan 32 artisan.

Antusiasme pelaku tampak dari jumlah pendaftar: 67 praktisi wellness dan 168 pendaftar Artisan Market. Mereka datang dari 13 kota dan daerah, dari Yogyakarta, Jakarta, Bekasi, Semarang, Surakarta, Magelang, Salatiga, Blora, Malang, Banyuwangi, Jawa Barat, Bali, hingga Bima. Dari para praktisi yang mendaftar, 71,6 persen (48 orang) berbasis di Yogyakarta. Pelaku lokal menjadi tulang punggung festival, dan jejaring dari luar daerah memperkaya warnanya.

Menyelami Batin: Lima Zona Pengalaman

Kurasi JCWF 2026 memberi ruang besar bagi perjalanan ke dalam diri. Tiga kategori terbesar mencakup 53 dari 85 program (sekitar 62,4 persen):

  • Spiritual & Energy Healing: 21 program
  • Mental Health & Emotional Wellbeing: 16 program
  • Meditation & Sound Healing: 16 program

Kategori lain melengkapinya: Healthy Food & Herbals (12 program), Art Therapy (11 program), serta Breathwork & Mindful Movement (9 program).

Seluruh kegiatan hadir dalam lima zona: Mind & Body, Healing & Therapy, Nature Connection, Creative Expression, dan Culinary Wellness. Pengunjung dapat memilih yoga, Mat Pilates & Breathwork, senam SKJ 88, Javanese Yoga & Sound Healing, lokakarya shibori, mindful stitching, melukis intuitif, hingga meracik jamu Nusantara. Tradisi leluhur dan praktik kebugaran masa kini bertemu dalam satu ruang.

Baca Juga :  Meidita Farazha Danty, B.Ec., MBA Resmi Menjabat Posisi Wakil Ketua DPW PSI Sumatera Selatan Mendampingi Dr. Ir. H Heri Amalindo, M.M

Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul, turut menghadirkan sound healing dan meditasi pada 7 November 2026. Kehadirannya menegaskan bahwa kebugaran paling jujur lahir dari keselarasan dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.

Festival yang Berpihak pada Bumi

JCWF 2026 membawa komitmen lingkungan. Penyelenggara berencana menghitung jejak karbon kegiatan dan menanam pohon sebagai kompensasi emisi. BPPD DIY bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Guwosari, Bantul, untuk pemilahan sampah sejak dari sumber. Pengunjung diimbau membawa botol minum sendiri, memanfaatkan stasiun pengisian air, dan menggunakan transportasi umum.

Setelah Festival: Menakar Manfaat yang Bertahan

Dampak JCWF bagi pariwisata Yogyakarta akan terlihat dari kunjungan wisatawan luar DIY, lama tinggal, pemanfaatan akomodasi, belanja peserta, transaksi artisan, dan kerja sama yang berlanjut menjadi paket wisata. Dengan cara itu, keberhasilan festival diukur dari manfaat ekonomi dan keberlanjutan yang dirasakan pelaku lokal, bukan hanya dari ramainya acara.

Pada akhirnya, JCWF 2026 mengajak kita menyadari bahwa pariwisata yang paling bernilai adalah pariwisata yang memulihkan, bagi wisatawan yang datang maupun bagi Yogyakarta yang menyambutnya. Seperti kata GKR Bendara, festival ini diharapkan tumbuh lebih besar setiap tahun, dan November pun tak lagi sepi, melainkan menjadi bulan untuk reconnect.

Berita Terkait

Tak Hanya Berdayakan Ekonomi, PNM Tanam 500 Pohon demi Kelestarian Alam
FKK Soroti Program “Gratispol” Kaltim: Bantuan Mahasiswa Dinilai Minim, Anggaran BBM Pejabat Justru Fantastis
Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api
Lansia 80 Tahun Asal Pamekasan Dilaporkan Hilang Sejak Senin Pagi, Keluarga Minta Bantuan Warga
Jam Malam Pelajar di Purwakarta Tetap Berlaku, Satpol PP Intensifkan Pengawasan
Abaikan Hak Pekerja 11 Tahun, Manajemen Telkom Regional 1 Diduga Lakukan PHK Sepihak Secara Lisan
Gus Hilmy Dorong Pengelolaan Air Terpadu untuk Atasi Kekeringan di DIY
Lebih dari Sekadar Berwisata, Laras Triloka Mengajak Pengunjung Belajar dan Berinovasi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Merawat Diri dan Budaya, JCWF 2026 Hadir di Yogyakarta pada November

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:03 WIB

Tak Hanya Berdayakan Ekonomi, PNM Tanam 500 Pohon demi Kelestarian Alam

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:26 WIB

FKK Soroti Program “Gratispol” Kaltim: Bantuan Mahasiswa Dinilai Minim, Anggaran BBM Pejabat Justru Fantastis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:59 WIB

Empat Gunung di Jatim Membara, Warga Waswas Asap dan Api

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Lansia 80 Tahun Asal Pamekasan Dilaporkan Hilang Sejak Senin Pagi, Keluarga Minta Bantuan Warga

Berita Terbaru

(Dok. JAFF Market 2026)

Entertainment

JAFF Market 2026 Umumkan 11 Proyek Film dan 10 IP Terpilih

Jumat, 23 Okt 2026 - 18:41 WIB