Koransatu, Jakarta – Transformasi sektor transportasi dan logistik menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung ekonomi rendah karbon di Indonesia. Penggunaan kendaraan listrik untuk armada komersial, peningkatan efisiensi distribusi barang, hingga pemanfaatan teknologi di sektor maritim dan industri dinilai dapat membantu membangun sistem logistik yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing bisnis.
Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan upaya menekan emisi. Pelaku industri juga perlu memperhatikan efisiensi biaya operasional, kesiapan infrastruktur, kelancaran rantai pasok, serta dukungan kebijakan yang dapat mendorong penggunaan kendaraan listrik secara lebih luas.
Untuk membahas berbagai tantangan tersebut, Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO) bersama Gemalindo Kreasi Indonesia kembali menggelar PERIKLINDO Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, investor, akademisi, peneliti, dan perusahaan teknologi untuk membahas perkembangan kendaraan listrik serta masa depan mobilitas berkelanjutan.
Ketua Umum PERIKLINDO, General (Ret.), Dr. Moeldoko, menyoroti pentingnya kajian yang matang dalam merumuskan kebijakan untuk mendukung perkembangan industri kendaraan listrik, termasuk terkait penggunaan baterai dan pemberian insentif.
Dr. Moeldoko juga menekankan perlunya mempertimbangkan penggunaan sumber daya dalam negeri serta keselarasan kebijakan insentif dengan kemampuan anggaran pemerintah.
“Kalau insentifnya berdasarkan nikel, sebagai contoh, sebuah motor akan diberikan insentif apabila menggunakan baterai nikel. Kita perlu melihat apakah kebijakan ini bisa selaras dengan anggaran yang diinginkan pemerintah,” ucapnya di Jl. Gerbang Pemuda, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, optimalisasi sumber daya Indonesia juga perlu menjadi bagian dari perencanaan pengembangan industri baterai agar kebutuhan industri dapat diperhitungkan secara tepat.
“Kita perlu mengkaji bagaimana optimalisasi sumber daya yang dimiliki Indonesia untuk memenuhi kebutuhan baterai. Kebutuhan industri baterai juga perlu diperhitungkan dengan baik,” bebernya.
PEVC 2026 mengangkat tema “The Future of a Clean and Efficient Mobility”. Pembahasan dalam konferensi ini diarahkan untuk mengidentifikasi peluang, tantangan, dan strategi penerapan elektrifikasi di berbagai sektor transportasi dan logistik.
Tema tersebut dijabarkan melalui dua subtema, yakni “Green Commercial Fleet: Transforming Logistics with Electric Vehicles” dan “Beyond Roads & Last-Mile: Optimizing Urban Delivery, Maritime, and Industrial Electrification”.
Subtema pertama berfokus pada percepatan penggunaan kendaraan listrik untuk armada komersial. Langkah ini dinilai penting untuk mendorong terciptanya sistem logistik yang lebih efisien sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan distribusi barang.
Namun, penerapan kendaraan listrik di sektor komersial masih membutuhkan sejumlah persiapan. Kejelasan tarif listrik untuk sektor niaga, keandalan jaringan listrik di jalur logistik utama, serta insentif untuk pengadaan dan konversi armada menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Selain itu, perusahaan perlu menghitung Total Cost of Ownership (TCO) atau keseluruhan biaya kepemilikan kendaraan sebelum memutuskan beralih ke armada listrik. Perhitungan ini mencakup berbagai komponen biaya selama kendaraan digunakan, sehingga perusahaan dapat menilai kelayakan investasi dalam jangka panjang.
Kesiapan teknologi pendukung juga tidak kalah penting, terutama untuk operasional rantai dingin (cold chain) yang membutuhkan pengaturan daya secara konsisten. Pengalaman perusahaan yang telah menerapkan elektrifikasi armada dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pelaku industri lain yang ingin mengikuti langkah serupa.
Untuk mendukung proses tersebut, kolaborasi antara produsen kendaraan listrik, penyedia solusi telematika dan Internet of Things (IoT), perusahaan energi seperti PT PLN (Persero), serta pelaku industri rantai pasok diperlukan agar ekosistem logistik hijau dapat berkembang secara terintegrasi.
Selain elektrifikasi kendaraan, pemanfaatan teknologi digital juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan efisiensi operasional transportasi dan logistik.
Vice President Enterprise Product Enablement, Solutions and B2B/G2C Telkomsel, Mulya Budiman, menyampaikan bahwa pihaknya akan membahas pemanfaatan teknologi untuk mendukung kebutuhan bisnis komersial, khususnya di sektor transportasi dan logistik.
“Kami akan menyampaikan bagaimana teknologi terkini dapat memberikan solusi bagi kebutuhan bisnis komersial,” imbuh Mulya.
Menurut Mulya, teknologi juga memiliki peran dalam mendukung mobilitas yang lebih baik, termasuk untuk kegiatan transportasi komersial dan logistik.
“Kami juga akan menyampaikan bagaimana teknologi dapat mendukung mobilitas yang lebih baik, khususnya di sektor transportasi komersial dan logistik,” pungkas Mulya.
Pembahasan tersebut turut mencakup solusi teknologi dan penerapannya dalam kegiatan operasional di lapangan.
“Kami akan menyampaikan solusi yang kami miliki serta perkembangan teknologi berbasis pelatihan, termasuk penerapannya di lapangan,” tutur Mulya.
Pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengoptimalkan pengelolaan armada. Melalui pengolahan data operasional, perusahaan berpeluang meningkatkan efisiensi penggunaan kendaraan, merencanakan distribusi dengan lebih baik, dan mendukung pengambilan keputusan secara lebih terukur.
Sementara itu, subtema kedua PEVC 2026 membahas pengembangan elektrifikasi yang tidak terbatas pada kendaraan darat dan pengiriman tahap akhir (last-mile delivery).
Perhatian juga diarahkan pada integrasi berbagai moda transportasi, pengembangan sektor maritim, serta pemanfaatan teknologi listrik untuk kebutuhan industri. Standardisasi infrastruktur pengisian daya menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan agar penggunaan kendaraan dan peralatan listrik dapat berjalan lebih efektif.
Peluang lain muncul dari pemanfaatan baterai bekas sebagai sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ESS). Pendekatan ini dapat mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan kembali baterai sesuai kondisi dan kelayakannya, sekaligus membantu mengoptimalkan penggunaan sumber daya energi.
Pengembangan transportasi masa depan juga membutuhkan koordinasi antara regulator, termasuk Kementerian Perhubungan, pengembang teknologi pesawat listrik lepas landas dan mendarat vertikal (electric Vertical Take-Off and Landing/eVTOL), perusahaan energi, serta asosiasi logistik.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar pengembangan teknologi, kesiapan infrastruktur, arah kebijakan, dan kebutuhan industri dapat berjalan seiring.
Melalui kedua subtema tersebut, PEVC 2026 diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan, memperluas wawasan praktis bagi pelaku industri, serta membuka peluang kemitraan strategis untuk mempercepat transformasi transportasi dan logistik.
Elektrifikasi tidak hanya diharapkan membantu mengurangi emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat daya saing industri. Untuk mewujudkannya, diperlukan pendekatan yang menyatukan kebijakan, teknologi, infrastruktur, dan kebutuhan bisnis.
PERIKLINDO Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2026 di Mövenpick Hotel Jakarta. Konferensi ini akan menjadi ruang bagi pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, dan pemangku kepentingan untuk bertukar pandangan mengenai tantangan serta peluang pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Dengan fokus pada elektrifikasi armada komersial, optimalisasi distribusi dan logistik, serta pengembangan transportasi dan industri berbasis listrik, PEVC 2026 diharapkan bisa mendorong kolaborasi konkret dalam mempercepat peralihan menuju sistem mobilitas rendah emisi di Indonesia.








Komentar