Koran Satu, Jakarta – Gelombang kritik tajam dari masyarakat kini mengarah langsung kepada Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Profesor Stella Christie. Akademisi yang awalnya menuai banyak pujian itu kini panen kecaman keras setelah publik mengetahui dirinya merangkap jabatan sebagai Komisaris PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Langkah Stella yang bersedia menduduki kursi dewan pengawas di anak usaha BUMN tersebut memicu kekecewaan masif. Publik menilai tindakan ini tidak etis karena berpotensi memecah fokus kementerian yang tengah berbenah, sekaligus mencederai nilai idealisme seorang ilmuwan.
Arus penolakan di media sosial kian memuncak lantaran latar belakang Stella di bidang ilmu kognitif (cognitive science) dianggap sama sekali tidak relevan dengan industri hulu minyak dan gas (migas). Warganet menuding masuknya nama sang wamen sebagai bukti nyata bahwa lingkaran kekuasaan masih melanggengkan praktik bagi-bagi jatah jabatan.
Jejak Digital PHE Singkap Nama Denny JA dan M. Qodari
Berdasarkan penelusuran pada laman resmi *Board of Commissioners* PHE, nama dan foto Stella Christie ternyata sudah terpampang sejak Juli 2025. Fakta ini membuktikan bahwa sang profesor telah mengamankan posisi di korporasi pelat merah tersebut jauh sebelum polemik rangkap jabatan ini mencuat ke permukaan.
Ironisnya, Stella tidak sendirian di dalam daftar pengawas anak perusahaan Pertamina tersebut. Laman resmi perseroan juga mencantumkan sejumlah nama yang lekat dengan peta politik tanah air.
Pemegang saham menunjuk pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny Januar Ali (Denny JA), sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen. Selain itu, nama Wakil Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari juga tercatat mengisi pos Komisaris PHE, mendampingi Awang Lazuardi yang menempati kursi Direktur Utama.
Sekretaris Perusahaan PHE, Hermansyah Y. Nasroen, berdalih bahwa perombakan pengurus ini merupakan keputusan mutlak dari pemilik saham dan pihak korporasi wajib mematuhi kebijakan tersebut.
Publik Tuntut Stella Christie Pilih Salah Satu Jabatan
Sorotan negatif yang terus menggelinding membuat integritas Stella Christie dipertanyakan. Banyak pihak menyayangkan mengapa seorang akademisi kaliber dunia bersedia masuk dalam pusaran konflik kepentingan yang dapat merusak tata kelola pemerintahan yang bersih (good governance).
Masyarakat kini mendesak adanya transparansi dan menuntut ketegasan dari pihak kementerian maupun Stella secara pribadi. Netizen meminta sang guru besar untuk segera melepas salah satu jabatan demi menjaga marwah dunia pendidikan tinggi nasional.
“Sangat disayangkan, ekspektasi publik yang tinggi langsung runtuh ketika melihat sang profesor ikut tergiur kursi empuk komisaris. Ini menjadi contoh buruk bagi dunia akademik,” tulis salah satu opini kritis warganet di platform X, Senin (29/6/2026).
Hingga berita ini naik cetak, Stella Christie belum memberikan klarifikasi resmi ataupun tanggapan terkait desakan mundur dari posisi komisaris yang dialamatkan kepadanya.








Komentar