KORANSATU, JAKARTA — Kesadaran masyarakat terhadap perawatan estetika medis kini mengalami pergeseran signifikan. Tren kecantikan instan yang mengubah bentuk wajah secara drastis (overdone) mulai ditinggalkan, berganti dengan pencarian hasil yang alami, presisi, serta mempertahankan karakter unik setiap individu.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya filosofi perawatan modern berbasis Beauty by Design,sebuah pendekatan estetika terintegrasi yang memadukan presisi standar medis dan seni pembentukan proporsi wajah (facial harmony).
Dokter spesialis Face Contouring sekaligus praktisi biomedik, dr. Amelia Budiman, M. Biomed, menjelaskan bahwa estetika modern seharusnya tidak lagi menerapkan satu standar ideal untuk semua orang. Setiap individu pada dasarnya memiliki signature beauty atau keunikan anatomi yang perlu diperkuat, bukan dihapus.
“Perawatan estetika bukan sekadar melakukan tindakan filler atau suntik wajah semata. Yang paling mendasar adalah pemahaman mendalam atas anatomi wajah, proses penuaan jaringan, serta kemampuan merancang strategi medis yang presisi agar hasilnya tetap tampak alami (natural look),” ujar dr. Amelia saat dihubungi redaksi, Rabu (28/10/2026).
Miskonsepsi Penuaan: Wajah Tampak Lelah Padahal Kulit Bagus
Dalam dunia estetika medis, salah satu keluhan yang paling sering dijumpai adalah tampilan wajah yang berkesan lelah, turun, atau lebih tua dari usianya, meskipun kondisi permukaan kulit cenderung sehat dan bebas dari masalah flek atau jerawat.
Menurut dr. Amelia, yang menuntaskan pendidikan Magister Ilmu Biomedik di FK Universitas Islam Sultan Agung ini, fenomena tersebut terjadi karena proses penuaan (facial aging) merupakan peristiwa kompleks yang terjadi di bawah permukaan kulit.
“Banyak masyarakat mengira penuaan hanya soal kerutan di kulit luar. Padahal, seiring bertambahnya usia, terjadi kehilangan volume lemak, melonggarnya jaringan ikat (retaining ligaments), hingga perubahan struktur tulang penyangga wajah,” jelasnya.
Beberapa faktor utama penyebab perubahan struktur wajah meliputi:
• Kehilangan Volume Kunci: Berkurangnya jaringan lemak di area dahi, pipi, dan pelipis sehingga wajah tampak cekung (hollow).
• Hilangnya Definisi Kontur: Pembatas antara pipi, garis rahang (jawline), dan dagu menjadi tidak tegas.
• Pergeseran Jaringan Lemak: Penurunan posisi kompartemen lemak yang memberikan impresi wajah terlihat kendur dan berkesan ‘turun’.
Pendekatan ‘Beauty by Design’: Solusi Personal Tanpa Operasi
Menjawab tantangan anatomi tersebut, klinik kecantikan medis GLAMRITZ Aesthetic Clinic menghadirkan konsep Beauty by Design yang berfokus pada pendekatan terukur dan dipersonalisasi sesuai kondisi spesifik setiap pasien.
dr. Amelia menekankan bahwa sebelum tindakan dilakukan, pasien wajib menjalani Full-Face Assessment. Evaluasi ini bertujuan menganalisis hubungan harmonis antara dahi, mata, pipi, hidung, bibir, hingga jawline.
“Setiap keluhan membutuhkan analisis presisi. Sebagai contoh, keluhan garis rahang yang kurang tegas tidak otomatis membutuhkan suntik Botox. Dokter harus mengevaluasi apakah penyebabnya berasal dari keaktifan otot masseter, penyebaran lemak, atau berkurangnya proyeksi dagu,” tegas lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara tersebut.
Melalui kombinasi penanganan non-bedah modern seperti Hyaluronic Acid (HA) Filler, Collagen Stimulator (seperti Ellansé), Botulinum Toxin, hingga teknologi pengencangan jaringan, pembentukan kontur wajah dapat dicapai tanpa prosedur invasif yang membutuhkan waktu pemulihan panjang.
Pentingnya Layanan Medis Terintegrasi
Bagi masyarakat yang hendak melakukan penyelarasan kontur wajah, memilih praktisi dengan latar belakang kedokteran dan kompetensi biomedik yang kuat menjadi faktor penentu utama keamanan serta estetika hasil akhir.
Layanan konsultasi presisi Beauty by Design dan Face Contouring ini dapat diakses langsung di GLAMRITZ Aesthetic Clinic, yang berlokasi di kawasan bisnis terpadu Pantai Indah Kapuk (Jl. Marina Raya, Ruko Cordoba Blok F No. 16, PIK, Jakarta Utara).








Komentar