Koran Satu, Jakarta Timur – Ketua DPC Parindra, M. Hafif Asisadiqi, yang juga dikenal publik dengan nama Muhammadvizz atau Bang Vizz, mengajak masyarakat untuk menyikapi setiap perbedaan dengan sikap dewasa dan saling menghormati. Menurutnya, perbedaan dukungan, baik dalam ajang olahraga seperti Piala Dunia maupun dalam kontestasi politik, merupakan hal yang wajar dan tidak boleh menjadi penyebab retaknya persaudaraan.
Pernyataan tersebut disampaikan M. Hafif Asisadiqi saat ditemui wartawan di Kantor DPC Parindra, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Sabtu, 4 Juli.
“Kalau dalam Piala Dunia saja kita bisa berbeda mendukung tim favorit, mengapa dalam politik kita harus bermusuhan? Setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihannya masing-masing. Perbedaan itu adalah sesuatu yang wajar dan harus dihormati,” ujar Muhammadvizz.
Ia menegaskan bahwa demokrasi memberikan hak kepada setiap warga negara untuk memilih calon maupun partai politik sesuai dengan keyakinan masing-masing. Karena itu, tidak sepatutnya perbedaan pilihan dijadikan alasan untuk memutus hubungan kekeluargaan, persahabatan, maupun kehidupan bermasyarakat.
“Perbedaan dukungan, baik dalam olahraga seperti Piala Dunia maupun dalam politik, merupakan hal yang biasa. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai kehilangan rasa persaudaraan. Bagaimanapun juga, mereka tetap saudara kita sebagai sesama anak bangsa,” katanya.
Menurut Muhammadvizz, masyarakat Indonesia telah lama hidup dalam keberagaman. Oleh sebab itu, sikap saling menghormati harus terus dipelihara, termasuk ketika menghadapi momentum politik.
“Hari ini mungkin kita berbeda pilihan politik, tetapi besok kita tetap hidup berdampingan sebagai tetangga, sahabat, bahkan keluarga. Jangan sampai perbedaan dukungan membuat kita saling membenci. Yang harus kita utamakan adalah menjaga persatuan, menghormati pilihan masing-masing, dan bersama-sama membangun bangsa,” tuturnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang berpotensi memecah belah, khususnya yang beredar di media sosial. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari demokrasi, tetapi persatuan bangsa harus tetap menjadi prioritas.
“Persatuan adalah modal utama bangsa Indonesia. Demokrasi mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan, bukan memperbesar permusuhan. Mari jadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk mempererat persaudaraan, bukan sebagai alasan untuk saling menjauh,” pungkasnya.








Komentar