Wacana Dekolonial Didorong Lebih Membumi Lewat Seri Kelas Publik Ansorolog dan Eonoiaco

- Jurnalis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 01:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana kelas perdana Dekolonisasi Agama dan Masyarakat Indonesia yang digelar secara virtual. (Dok. Ist.).

Suasana kelas perdana Dekolonisasi Agama dan Masyarakat Indonesia yang digelar secara virtual. (Dok. Ist.).

Koransatu, Yogyakarta — Wacana dekolonial yang tengah berkembang di ranah akademik didorong untuk lebih membumi. Merespons hal tersebut, Ansorolog berkolaborasi dengan Eonoiaco menggelar Seri Kelas Publik bertajuk “Dekolonisasi Agama dan Masyarakat Indonesia” guna membedah upaya pelepasan pengaruh kolonial dari berbagai objek kajian, mulai dari struktur sosial hingga keagamaan.

Zainun Nur Hiasyam Tahrus, narasumber pada kelas perdana Pengantar Dekolonisasi Agama dan Sosiologi, Jumat (2/10/2026) malam, menegaskan bahwa langkah mendasar dari dekolonialitas adalah mengidentifikasi dan memutus cara pikir masyarakat dari pengaruh kolonial.

“Untuk mencapai dekolonitas, harus diketahui aspek kolonialitas. Memutus cara pikir dari asumsi kebenaran yang dikembangkan negara barat. Itu bukan kebenaran universal,” tegasnya.

Zainun menjelaskan bahwa dalih kolonial menjajah suatu wilayah kerap dibungkus dengan iming-iming keselamatan hingga modernitas, yang sebetulnya sekadar cerita buatan yang dipaksakan sebagai kebenaran universal. Oleh karena itu, dekolonial tak cukup sekadar memutus gaya hidup, melainkan harus diiringi praksis komunal.

“Saya harus memutus cara saya mengetahui dari kolonial ini dari sehari-hari. Kalau nggak, hanya jadi obrolan akademik, tidak berpengaruh. Jadi harus menghidupkan,” lanjut alumnus School of African and Oriental Studies (SOAS) University of London tersebut.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa dekolonisasi bukanlah dewesternisasi atau upaya menolak segala hal dari Barat secara membabi buta. Dekolonial menitikberatkan pada kedaulatan masyarakat yang memiliki partikularitas dalam memahami sesuatu melalui alam dan budayanya sendiri.

“Orang Jawa, orang Sunda, orang Papua mengetahui dengan caranya sendiri,” tutur penulis keislaman NU Online itu.

Sayangnya, ia melihat masyarakat masih sering terjebak dalam belenggu kolonial. “Kita masih belum banyak melakukan konstruksi baru asli dari rahim kebudayaan kita,” tambahnya.

Baca Juga :  GP Ansor dan Banser Perkuat Pengamanan Muktamar Ke-35 NU

Mengatasi ketertinggalan tersebut, Zainun mengutip pandangan Syed Farid Alatas tentang empat langkah dekolonisasi pengetahuan sosial: mempertanyakan status epistemologis konsep ilmu sosial, mengontekstualisasikan teori sosial pada realitas lokal, menciptakan teori baru untuk diglobalisasikan, serta mengakui keberagaman konteks sosial yang tak selalu bisa dijangkau oleh sebuah teori tunggal.

Mewakili pihak penyelenggara dari Ansorolog x Eonoiaco, Afrizal Qosim menyatakan bahwa kelas ini adalah ikhtiar untuk menjembatani pemikiran kritis dengan kesadaran kebudayaan di tengah masyarakat.

“Tujuan utama kami adalah membumikan wacana dekolonisasi agar ia tidak asing di telinga anak muda. Jangan sampai ada kesenjangan antara wacana besar yang sedang berkembang di dunia dengan pola perilaku dan keputusan politik-kultural yang kita ambil sehari-hari. Dekolonisasi harus menjadi alat baca yang hidup, yang lahir dari rahim kebudayaan kita sendiri,” ujarnya.

Ke depannya, kelas publik ini akan terus berlanjut dengan menghadirkan deretan akademisi dan pakar, seperti Lukman Hakim Bruno (Aktivis Dekolonial dan CRCS UGM), Proyek Dekolonial, Lien Iffah Naf’atu Fina (Mahasiswa PhD University of Chicago dan Dosen UIN Sunan Kalijaga), Zacky Khairul Umam (Filolog dan Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia), Geger Riyanto (Antropolog Universitas Indonesia), Ekky Imanjaya (Dosen Binus University), hingga Siti Maimunah (Politik Ekologi Feminis).

Berita Terkait

Basnang Said Ajak Kementerian Lain Hidupkan BLK Pesantren
Harta Kekayaan Eks Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal Disorot, FKK Desak Aphan Usut Tuntas Laporan Dugaan Korupsi
Presma UIN A.M. Sangadji: Pemuda Kerap Kehilangan Daya Kritis di Hadapan Kekuasaan
DEMA UIN Siber Syekh Nurjati Bedah Relevansi Sumpah Pemuda di Tengah Persoalan Kekinian
Bahaya Laten Neo-Pamswakarsa dan Runtuhnya Ilusi Polri Bersama Rakyat
Akademisi IAIN Sorong Ingatkan Pemuda: Kritik Harus Punya Dasar Kuat
Dinilai Langgar Etika Pejabat Publik, Bapera Mubar Desak Gubernur Sultra Copot Kadis Pariwisata Ridwan Badallah
Lapas Kelas IIA Pontianak Diduga Masih Kebobolan Barang Terlarang, FKK Desak Pemeriksaan Menyeluruh Terhadap Kalapas Ridha Ansari

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Harta Kekayaan Eks Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal Disorot, FKK Desak Aphan Usut Tuntas Laporan Dugaan Korupsi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:45 WIB

Presma UIN A.M. Sangadji: Pemuda Kerap Kehilangan Daya Kritis di Hadapan Kekuasaan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:23 WIB

DEMA UIN Siber Syekh Nurjati Bedah Relevansi Sumpah Pemuda di Tengah Persoalan Kekinian

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:14 WIB

Bahaya Laten Neo-Pamswakarsa dan Runtuhnya Ilusi Polri Bersama Rakyat

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Akademisi IAIN Sorong Ingatkan Pemuda: Kritik Harus Punya Dasar Kuat

Berita Terbaru