Kerusuhan Demonstrasi di Grahadi: Tak Ada Pengamanan TNI Saat Massa #IndonesiaSekarat Bakar Fasilitas Publik

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 20:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kerusuhan aksi massa di Surabaya (foto: istimewa)

Kerusuhan aksi massa di Surabaya (foto: istimewa)

Koran Satu, Surabaya – Aksi unjuk rasa bertajuk gerakan #IndonesiaSekarat di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, berakhir dengan bentrokan hebat pada Jumat malam (26/6/2026). Memasuki pukul 18.30 WIB, situasi yang awalnya berjalan damai mendadak berubah menjadi mencekam. Kelompok massa mulai bertindak anarkis dengan merusak lingkungan sekitar dan memicu kerusuhan bakar-bakar fasilitas publik di area pusat pemerintahan Jawa Timur tersebut.

Gelombang massa yang mengatasnamakan “Warga Surabaya Turun ke Jalan” sebenarnya memulai aksi mereka secara tertib sejak pukul 16.20 WIB. Mereka sempat melakukan long march dan menyampaikan aspirasi melalui orasi. Namun, situasi memanas menjelang malam hari setelah sejumlah provokator tak dikenal menyusup ke tengah-tengah demonstran.

Kelompok provokator tersebut langsung menyulut kerusuhan dengan melemparkan batu serta petasan ke arah kompleks Grahadi. Lemparan keras ini menyebabkan pagar pembatas di sisi timur mengalami kerusakan parah. Tak berhenti di situ, massa juga membakar sejumlah fasilitas publik di sepanjang jalan raya, hingga memicu kepulan asap hitam yang membubung tinggi. Kondisi semakin semrawut karena beberapa pengendara motor nekat melawan arus sambil menggeber mesin secara agresif di depan gerbang Grahadi.

Guna meredam bentrokan langsung dan menghindari jatuhnya korban, aparat kepolisian yang berjaga memilih menarik barisan mereka ke belakang. Petugas kepolisian berlindung di balik truk kendaraan taktis sambil terus memberikan imbauan persuasif. Melalui mobil komando, polisi meminta massa menghentikan aksi perusakan fasilitas tersebut.

Menariknya, dalam pengamanan ketat di kawasan ring satu ini, tidak ada pengamanan TNI yang terlihat di barisan depan untuk membantu mengendalikan massa yang anarkis. Kendali penuh operasional pengamanan murni berada di tangan pihak kepolisian.

Menanggapi situasi yang memanas ini, Ketua Komunitas Cinta Indonesia (KCI), Moh Aldy Maulana, turut memberikan perhatiannya. Ia menyayangkan aksi perusakan fasilitas umum yang merugikan masyarakat luas dan menyatakan dukungannya terhadap langkah aparat penegak hukum.

Baca Juga :  Kebutuhan Darah di Purwakarta Capai 1.800 Kantong per Bulan, Stok Golongan A Mendesak Tinggal 30 Kantong

“Kami sangat menyayangkan tindakan anarkis yang merusak fasilitas publik ini. Kami mendukung penuh langkah kepolisian untuk bertindak secara terukur dan tetap humanis dalam mengendalikan situasi, demi menjaga keamanan serta ketertiban Kota Surabaya,” ujar Moh Aldy Maulana saat memberikan keterangannya.

Hingga pukul 18.48 WIB, massa yang tersisa masih bertahan di depan Gedung Grahadi. Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, langsung mengambil alih komando dari atas mobil pengeras suara untuk memberikan peringatan terakhir dan ultimatum keras kepada para demonstran.

“Kami akan melayani aksi unjuk rasa, tolong hentikan atau kita akan melakukan tindakan tegas. Sekali lagi kami berikan kesempatan meninggalkan lokasi ini, atau kita melakukan langkah-langkah tegas terukur,” ujar Kombes Pol Luthfie dengan nada tinggi.

Hingga saat ini, aparat kepolisian masih bersiaga penuh di lokasi kejadian untuk mengantisipasi potensi kerusuhan susulan. Petugas juga terus mengamankan sisa-sisa fasilitas publik yang mengalami kerusakan akibat ulah anarkis massa.

Berita Terkait

Basnang Said Ajak Kementerian Lain Hidupkan BLK Pesantren
Harta Kekayaan Eks Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal Disorot, FKK Desak Aphan Usut Tuntas Laporan Dugaan Korupsi
Presma UIN A.M. Sangadji: Pemuda Kerap Kehilangan Daya Kritis di Hadapan Kekuasaan
DEMA UIN Siber Syekh Nurjati Bedah Relevansi Sumpah Pemuda di Tengah Persoalan Kekinian
Bahaya Laten Neo-Pamswakarsa dan Runtuhnya Ilusi Polri Bersama Rakyat
Akademisi IAIN Sorong Ingatkan Pemuda: Kritik Harus Punya Dasar Kuat
Dinilai Langgar Etika Pejabat Publik, Bapera Mubar Desak Gubernur Sultra Copot Kadis Pariwisata Ridwan Badallah
Lapas Kelas IIA Pontianak Diduga Masih Kebobolan Barang Terlarang, FKK Desak Pemeriksaan Menyeluruh Terhadap Kalapas Ridha Ansari

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Harta Kekayaan Eks Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal Disorot, FKK Desak Aphan Usut Tuntas Laporan Dugaan Korupsi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:45 WIB

Presma UIN A.M. Sangadji: Pemuda Kerap Kehilangan Daya Kritis di Hadapan Kekuasaan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:23 WIB

DEMA UIN Siber Syekh Nurjati Bedah Relevansi Sumpah Pemuda di Tengah Persoalan Kekinian

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:14 WIB

Bahaya Laten Neo-Pamswakarsa dan Runtuhnya Ilusi Polri Bersama Rakyat

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Akademisi IAIN Sorong Ingatkan Pemuda: Kritik Harus Punya Dasar Kuat

Berita Terbaru