Koran Satu, Jakarta— Proses seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) 2026 resmi berakhir. Kementerian Agama menetapkan sekitar 1.700 calon penerima beasiswa untuk jenjang sarjana, magister, dan doktor yang akan menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri.
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pada Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Ruchman Basori, mengapresiasi seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian seleksi. Ia juga menyemangati peserta yang belum berhasil agar tidak kehilangan semangat dan kembali mencoba pada seleksi berikutnya.
“Bagi yang belum, kami ucapkan jangan jera atau jangan putus asa untuk mencoba di kesempatan yang akan datang,” ujar Ruchman.
Kepada peserta yang dinyatakan lolos, Ruchman menyampaikan tiga pesan utama sebagai bekal selama menjalani studi.
Pesan pertama adalah menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Menurut dia, masa studi harus dimanfaatkan secara optimal karena keberhasilan di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan menghadapi tantangan teknis, nonteknis, serta kemampuan membangun jejaring.
“Luluslah tepat waktu. Dinamika kuliah di perguruan tinggi baik di dalam dan luar negeri cukup komplek. Ada soal kemampuan intelektual, ada faktor-faktor teknis, dan juga ada faktor-faktor nonteknis dan juga kecakapan untuk membangun relasi atau jejaring. Karena itu, dalam waktu 48 bulan untuk S1 dan S3, alias 4 tahun, dan 24 bulan untuk S2, dimanfaatkan seoptimal mungkin,” kata Ruchman.
Pesan kedua berkaitan dengan kualitas proses akademik yang harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Ruchman berharap para penerima BIB tidak hanya menjadi lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan keumatan dan sosial.
“Ikuti perkuliahan studi ini dengan baik. Memaknai setiap jengkal langkah, setiap etape dalam pencapaian menjadi sarjana, magister, dan doktor. Di situlah adalah kawah candradimuka terbaik untuk menghasilkan para intelektual yang tidak saja intelektual untuk mengisi pos-pos tenaga-tenaga profesional, pos-pos untuk melakukan memenuhi tenaga-tenaga keterampilan yang trampil di masyarakat, tetapi juga membangun para intelektual yang tidak berada di menara gading, tetapi intelektual besutan BIB Puspenmas, orang yang mengerti persis problem-problem keumatan, problem-problem masyarakat. Dia tahu masyarakat yang kelaparan, keterbelakangan, korupsi, dan sebagainya, maka menjadi bagian penting untuk menjadi kepeduliannya,” tutur Ruchman.
Selain prestasi akademik dan kepedulian sosial, Ruchman menekankan pentingnya peran penerima beasiswa sebagai agen moderasi beragama. Menurut dia, para awardee BIB diharapkan menjadi teladan dalam menjaga toleransi dan mengedepankan nilai-nilai moderasi, baik saat menempuh studi di dalam negeri maupun di luar negeri.
“Teman-teman semuanya harus mampu menjadi bagian agen moderasi beragama. Para awardee BIB di mana pun yang berada, di perguruan tinggi dalam dan luar negeri, apakah di UGM, ITS, UIN, UNER, dan IAIN yang diterima ini harus menjadi orang yang berada di garis terdepan untuk mengedepankan nilai-nilai moderasi beragama. Apalagi bagi mereka yang berada di belahan dunia ini, apakah di Timur Tengah, apakah di Eropa, apakah di Amerika, apakah juga di Australia, dan juga mungkin juga hanya negara-negara tetangga,” ujar Ruchman.








Komentar