Koran Satu, Polewali Mandar — Sekretariat Nasional Aliansi Petani Indonesia (API) mendorong penguatan kelembagaan Koperasi Mitra Agribisnis Mandiri Amanah (MaMa) di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sebagai langkah menghadapi gejolak harga kakao dan tuntutan pasar global yang semakin ketat. Penguatan dilakukan melalui pembenahan tata kelola, diversifikasi usaha, hingga digitalisasi data petani.
Upaya tersebut dibahas dalam kunjungan lapang dan diskusi strategis yang digelar pada Senin (13/7). Selain memperkuat kapasitas koperasi, kegiatan itu juga menjadi bagian dari penyusunan strategi bisnis yang lebih berkelanjutan dan tangguh menghadapi perubahan pasar nasional maupun internasional.
Ketua Koperasi MaMa, H. Rauf, mengungkapkan koperasi tengah menghadapi tekanan akibat fluktuasi harga kakao yang sangat tajam. Harga kakao yang sebelumnya mencapai sekitar Rp99.000 per kilogram sempat turun hingga kisaran Rp50.000 per kilogram. Penurunan tersebut membuat sebagian besar modal usaha tertahan dalam bentuk stok kakao yang belum dipasarkan.
Meski demikian, koperasi tetap mempertahankan standar mutu biji kakao melalui proses pengeringan dan penyimpanan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Langkah itu ditempuh agar kualitas produk tetap terjaga ketika harga kembali membaik.
Sebagai strategi mitigasi risiko, koperasi menghentikan sementara pembelian kakao dalam jumlah besar dan mengalihkan usaha pada transaksi dengan modal lebih kecil serta perputaran dana yang lebih cepat. Di saat bersamaan, MaMa mulai mengembangkan sejumlah unit usaha lain, seperti penyediaan bibit kakao, peternakan, pupuk organik, jasa pengolahan biji kakao, serta program pendukung sektor kakao. Koperasi bersama API juga memperluas jejaring kemitraan untuk membuka pasar bagi kakao fermentasi.
Sekretaris Jenderal Aliansi Petani Indonesia, M. Nuruddin, menegaskan bahwa penguatan ekonomi petani akan menjadi fokus utama organisasi dalam lima tahun mendatang.
“Lima tahun ke depan API akan memfokuskan pembangunan sistem ekonomi petani melalui penguatan kelembagaan, pemanfaatan aset organisasi, serta kemitraan yang adil.”
Menurutnya, aset petani tidak hanya berupa modal finansial, tetapi juga sumber daya manusia, lahan kakao yang terkonsolidasi, pengetahuan, data, jaringan, hingga kelembagaan usaha yang telah dibangun.
API menargetkan pengembangan tujuh komoditas unggulan, yakni beras, kakao, kopi, sawit, kayu manis, madu, dan ikan kerapu melalui penguatan koperasi, serikat dagang tani, serta kemitraan bisnis yang berkelanjutan. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi petani.
Dalam diskusi itu, API juga mengingatkan tantangan baru yang dihadapi industri kakao Indonesia, yakni penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR). Regulasi Uni Eropa tersebut mewajibkan setiap produk kakao yang masuk ke pasar Eropa memiliki bukti bahwa komoditasnya tidak berasal dari praktik deforestasi.
Untuk memenuhi persyaratan tersebut, Koperasi MaMa didorong membangun basis data petani secara lebih lengkap, mulai dari pemetaan lahan, titik koordinat kebun, hingga legalitas kepemilikan lahan sebagai prasyarat memasuki pasar internasional.
Selain pembenahan tata kelola, API menilai koperasi perlu melakukan diversifikasi usaha agar tidak bergantung sepenuhnya pada perdagangan kakao. Peluang usaha seperti jasa fermentasi, pengeringan, penyimpanan, penyediaan sarana produksi, hingga layanan logistik dinilai dapat menjadi sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi anggota.
Diskusi juga menyoroti praktik side selling atau penjualan hasil panen langsung kepada perusahaan di luar koperasi. Praktik tersebut dinilai berpotensi melemahkan posisi koperasi karena mengurangi volume transaksi dan pencatatan kelembagaan, sehingga berdampak pada menurunnya posisi tawar petani dalam rantai perdagangan kakao.
Karena itu, koperasi didorong memperkuat pelayanan kepada anggota, meningkatkan tata kelola organisasi, menerapkan sistem penjaminan mutu, serta membangun kepercayaan anggota agar pemasaran hasil panen terpusat melalui koperasi.
Sebagai bagian dari penguatan tata kelola berbasis data, API memperkenalkan penggunaan aplikasi KoboToolbox untuk kegiatan monitoring dan pendataan dasar (baseline) petani. Koperasi MaMa menyepakati pendataan terhadap sedikitnya 140 petani atau sekitar 10 persen dari total anggota melalui metode random sampling. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan program, pemantauan, dan evaluasi pengembangan koperasi pada masa mendatang.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke gudang penyimpanan kakao milik koperasi untuk meninjau proses grading dan sortasi biji kakao yang telah disimpan hampir satu tahun. Proses tersebut dilakukan guna menjaga kualitas sesuai standar SNI sebelum dipasarkan.
Tim API juga mengunjungi Kelompok Tani Ulusarahe di Desa Batu, Kecamatan Tapango, yang tengah mengajukan skema Perhutanan Sosial pada lahan kakao seluas sekitar 200 hektare yang dikelola 80 petani. Salah satu persoalan utama yang dihadapi kelompok tersebut ialah keterbatasan akses air bersih saat musim kemarau.
Melalui kunjungan ini, API dan Koperasi MaMa menegaskan komitmen memperkuat koperasi agar lebih profesional, adaptif, dan berdaya saing. Penguatan kelembagaan, digitalisasi data, diversifikasi usaha, serta peningkatan kualitas produk diharapkan menjadi fondasi untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kakao.








Komentar