Koran Satu, PALOPO, 22 Juli 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Palopo sukses menyelenggarakan Workshop & Focus Group Discussion (FGD) Redesain Kurikulum pada Rabu, 22 Juli 2026. Mengusung tema “Redesain Kurikulum FEB UM Palopo: Integrasi Sustainability, Digital Transformation, dan Standar Global dalam Bingkai Outcome-Based Education (OBE)”, kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi industri, serta mitra lintas daerah untuk merumuskan arah baru pendidikan tinggi di bidang ekonomi dan bisnis.
Sebagai bentuk komitmen dalam menyelaraskan kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri yang terus berkembang, kegiatan ini secara khusus menghadirkan Muhammad Ridho Nosa, S.T., M.Kom. sebagai narasumber secara daring. Kehadirannya memberikan perspektif komprehensif melalui konsep Triple Helix, mengingat perannya yang mencakup tiga domain strategis, yakni sebagai akademisi (Dosen Politeknik Negeri Bengkalis), praktisi teknologi (Founder & CEO platform marketplace lokal Soodu.id), sekaligus representasi dunia usaha dan industri sebagai Ketua Kadin Kabupaten Bengkalis.
Dalam sesi Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, Muhammad Ridho Nosa menekankan pentingnya penguatan socio-technopreneurship bagi mahasiswa sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.
“Mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi saat ini tidak lagi cukup hanya dibekali pemahaman teori. Mereka dituntut untuk adaptif terhadap transformasi digital dan tanggap terhadap isu-isu ekonomi berkelanjutan (sustainability), termasuk pesatnya perkembangan teknologi digital hingga Artificial Intelligence (AI). Kolaborasi langsung antara institusi pendidikan seperti UM Palopo dengan praktisi industri, inovator teknologi, dan dunia usaha menjadi sangat penting. Sinergi ini akan memastikan bahwa Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang dirancang hari ini benar-benar tajam, relevan, dan mampu menjawab tantangan nyata di dunia kerja maupun lanskap kewirausahaan digital,” tegas Ridho Nosa.
Melalui inisiatif dan kolaborasi lintas sektor seperti ini, diharapkan perguruan tinggi di Indonesia semakin mampu mencetak lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kapasitas sebagai inovator, penggerak digitalisasi UMKM, serta pencipta lapangan kerja yang berlandaskan prinsip ekonomi berkelanjutan.








Komentar