Membawa Suasana Batak ke Yogyakarta dalam Pembukaan Pameran Tunggal “Diri dan Liyan”Dhewantara Manurung

5cc3f6674ad8de65983a714f805c70fc

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026 - 19:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ket foto : Suasana Pengunjung di Pembukaan Pameran Diri dan Liyan oleh Dhewantara Manurung

Ket foto : Suasana Pengunjung di Pembukaan Pameran Diri dan Liyan oleh Dhewantara Manurung

Yogyakarta — Ada sesuatu yang berbeda dirasakan pengunjung ketika memasuki pembukaan pameran tunggal “Diri dan Liyan” karya Dhewantara Hardyk Manurung, Jumat, 11 September 2026. Bukan hanya karena karya-karya seni rupa yang dipamerkan, tetapi juga karena suasana yang dibangun sejak acara dimulai terasa seperti membawa sepotong ingatan Batak ke tengah kehidupan seni Yogyakarta.

Nuansa tersebut terasa kuat melalui kehadiran musik tradisi dan pertunjukan yang mengiringi pembukaan. Bagi sebagian pengunjung, pengalaman itu seperti sebuah perjalanan singkat: berada di Yogyakarta, tetapi sejenak dibawa kembali pada suasana, bunyi, dan ingatan kebudayaan Batak.

Pameran “Diri dan Liyan” memang tidak hanya berbicara mengenai identitas melalui karya visual. Latar pengalaman Dhewantara sebagai seseorang yang tumbuh dan berpindah dari Binjai, Medan, Bandung, hingga menetap di Yogyakarta membuat persoalan mengenai asal-usul dan tempat pulang menjadi bagian penting dalam pameran ini.

Karena itu, kehadiran unsur Batak dalam pembukaan terasa bukan sebagai hiasan tambahan. Ia seperti membuka pintu lain untuk memahami perjalanan Dhewantara—bagaimana ingatan tentang rumah, keluarga, leluhur, marga, dan kampung halaman terus dibawa meskipun seseorang telah jauh berpindah tempat.

Suasana tersebut semakin terasa ketika Gondang Hasapi “KSBJ” hadir dalam rangkaian pembukaan, bersama Marsianjuan Dancer. Bunyi musik dan gerak tari membuat ruang pamer tidak terasa seperti tempat yang hanya digunakan untuk melihat karya, tetapi berubah menjadi ruang perjumpaan berbagai bentuk ekspresi seni.

Pameran ini sendiri dikuratori oleh Dr. Moh. Rusnoto Susanto, S.Pd, M.Sn, MCE, dengan tulisan oleh Tiang Senja dan Cholsverde. Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Ucok Hutabarat.

Namun bagi pengunjung, momen yang menarik justru tidak berhenti ketika peresmian selesai.

Setelah pembukaan resmi, acara berlanjut dengan berbagai penampilan seni dan musik. Sejumlah penampil seperti @kebunkecil, @andre saragih, @sahata project, @betrand_zai, @rescondino ffffler, @hendrikpangkale, dan @echokena ikut mengisi rangkaian acara.

Baca Juga :  PCNU Tangsel Siapkan Organisasi Modern hingga Penguatan Ekonomi Jamaah

Perubahan suasana itu terasa cukup kentara. Jika pada awalnya pengunjung datang untuk melihat pameran dan mengikuti seremoni pembukaan, setelah peresmian ruang tersebut berkembang menjadi tempat berkumpul, mendengarkan musik, menyaksikan pertunjukan, dan berbincang dengan sesama pengunjung maupun pelaku seni.

Bagi mereka yang hadir, pengalaman tersebut membuat pembukaan “Diri dan Liyan” terasa lebih dekat dengan sebuah perayaan daripada sekadar seremoni pembukaan pameran.

Ada musik. Ada gerak. Ada pertemuan. Ada percakapan. Dan ada suasana kebudayaan yang terasa begitu dekat dengan identitas sang seniman.

Hal tersebut menjadi menarik karena gagasan mengenai “Diri dan Liyan” sendiri berangkat dari persoalan perjumpaan. Dalam catatan mengenai pameran ini, “liyan” tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang asing dan berada di luar diri. Keluarga, kampung halaman, leluhur, masyarakat baru, bahkan bagian diri dari masa lalu dapat menjadi “liyan” yang ikut membentuk seseorang.

Apa yang terjadi pada malam pembukaan seolah memperlihatkan gagasan tersebut dalam bentuk yang lebih nyata.

Ada sesuatu yang dibawa dari jauh, kemudian dipertemukan dengan lingkungan yang baru.

Budaya Batak bertemu dengan Yogyakarta. Musik tradisi bertemu dengan ruang seni kontemporer. Karya visual bertemu dengan pertunjukan. Seniman bertemu pengunjung. Orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak saling mengenal kemudian berada dalam satu ruang dan menikmati peristiwa yang sama.

Bagi pengunjung yang memiliki kedekatan dengan budaya Batak, suasana tersebut dapat menghadirkan pengalaman yang lebih emosional. Bukan semata-mata karena bentuk pertunjukannya, tetapi karena bunyi dan atmosfer kebudayaan dapat memunculkan kembali ingatan tentang rumah dan asal-usul.

Sementara bagi pengunjung yang tidak berasal dari lingkungan Batak, pengalaman tersebut justru menjadi pintu untuk mengenal kebudayaan yang mungkin sebelumnya hanya mereka temui melalui karya, cerita, atau pengetahuan umum.

Baca Juga :  1.000 Orang Hadiri Senam Kreasi di Malang, Kampanye Cegah Perkawinan Anak Digencarkan

Di sinilah pembukaan pameran menjadi menarik: ia tidak memaksa pengunjung memahami identitas melalui teori terlebih dahulu. Identitas justru dirasakan melalui suasana.

Musik menjadi pintu masuk.

Gerak menjadi bahasa.

Karya menjadi ruang perenungan.

Dan pertemuan antarmanusia menjadi bagian dari pengalaman pameran itu sendiri.

Hal tersebut sejalan dengan perjalanan Dhewantara yang selama berada di Yogyakarta juga berhadapan dengan lingkungan baru, komunitas, pertemanan, dunia seni, serta berbagai bentuk kehidupan urban. Perjumpaan dengan lingkungan baru tersebut tidak membuat pengalaman masa lalu hilang, tetapi justru memberi kesempatan untuk membacanya kembali.

Karena itu, pengunjung seolah tidak hanya melihat seorang seniman yang sedang memamerkan karya. Mereka melihat seseorang yang sedang mempertemukan beberapa bagian kehidupannya dalam satu ruang.

Ada Batak yang dibawa dari masa lalu.

Ada Yogyakarta sebagai tempat hidup sekarang.

Ada seni sebagai ruang pertemuan keduanya.

Dan ada para pengunjung yang ikut menjadi bagian dari perjumpaan tersebut.

Salah satu hal yang juga menarik adalah bagaimana karya-karya Dhewantara menghadirkan figur dengan wajah dan mata besar yang seolah menatap balik kepada orang yang melihatnya. Dalam pembacaan pameran, tatapan tersebut dapat dipahami sebagai hubungan dua arah antara diri dan yang lain: ketika melihat orang lain, seseorang pada saat yang sama mungkin sedang melihat bagian dari dirinya sendiri.

Pengalaman pembukaan malam itu seperti memperluas gagasan tersebut dari karya ke kehidupan nyata.

Pengunjung datang sebagai orang luar.

Kemudian mendengarkan, melihat, merasakan, dan berinteraksi.

Batas antara penonton dan peristiwa perlahan menjadi lebih cair.

Malam itu, “Diri dan Liyan” tidak hanya memperlihatkan karya-karya Dhewantara Manurung. Ia juga menghadirkan sebuah pengalaman tentang bagaimana identitas dapat dibawa ke tempat baru tanpa harus kehilangan akar.

Baca Juga :  Pramuka Penegak Didorong Jadi Garda Pencegahan Narkoba di Surabaya

Seperti seseorang yang pergi jauh dari rumah, tetapi menemukan cara untuk menghadirkan kembali rumah tersebut melalui bunyi, gerak, ingatan, karya, dan orang-orang yang ditemuinya.

Di Yogyakarta, pada malam pembukaan itu, Batak seakan hadir bukan sebagai sesuatu yang jauh.

Ia hadir dalam bunyi gondang, dalam gerak, dalam percakapan, dalam karya, dan dalam ingatan para pengunjung.

Dan setelah peresmian selesai, ketika musik dan berbagai penampilan seni terus mengisi ruang, pameran tersebut seperti menemukan bentuk perayaannya sendiri:

sebuah pertemuan antara diri yang dibawa dari rumah dengan liyan yang ditemukan di perjalanan.

Pameran “Diri dan Liyan” karya Dhewantara Hardyk Manurung berlangsung pada 11–19 September 2026.

Berita Terkait

Lahan LP2B Jadi Lokasi Wisata Watu Songo, Mengapa Aktivitasnya Masih Berjalan?
Pelantikan PC IMM Gresik 2026–2027 Diwarnai Peresmian Komisariat Baru dan Studium Generale Kebangsaan
Perluas Jejaring Dakwah Kampus, FSLDK Priangan Timur Resmikan 5 LDK Baru pada FSLDKD ke-VIII
Golkar Surabaya Tancap Gas! Rakerda 2026–2031 Usung Semangat Baru dan Solusi Warga
‎Dihadiri 3.000 Warga, NasDem Purwakarta Gebrak Panggung Politik: Target Juara Dikumandangkan
UPN Veteran Jawa Timur Dorong UMKM Somano Naik Kelas Melalui Teknologi Sealer Otomatis dan Digitalisasi
Bawa Inovasi ROV, Sepuluh Mahasiswa UMG Siap Bertanding di Final Kontes Kapal Indonesia 2026
Terlacak PPATK Main Judi Online 3 Bulan, Sri Hananta Dicopot dari Ketua PN Andoolo!

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 19:03 WIB

Membawa Suasana Batak ke Yogyakarta dalam Pembukaan Pameran Tunggal “Diri dan Liyan”Dhewantara Manurung

Selasa, 15 September 2026 - 12:28 WIB

Lahan LP2B Jadi Lokasi Wisata Watu Songo, Mengapa Aktivitasnya Masih Berjalan?

Senin, 14 September 2026 - 19:24 WIB

Pelantikan PC IMM Gresik 2026–2027 Diwarnai Peresmian Komisariat Baru dan Studium Generale Kebangsaan

Senin, 14 September 2026 - 18:17 WIB

Perluas Jejaring Dakwah Kampus, FSLDK Priangan Timur Resmikan 5 LDK Baru pada FSLDKD ke-VIII

Senin, 14 September 2026 - 00:31 WIB

Golkar Surabaya Tancap Gas! Rakerda 2026–2031 Usung Semangat Baru dan Solusi Warga

Berita Terbaru