Waspada! Jangan Tertipu Kepanikan Fenomena Sell Indonesia

d651f3b01ac39c943b51efac861faeab

- Jurnalis

Senin, 6 Juli 2026 - 14:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis adalah Monica Adi Margareta, Mahasiswi Universitas Airlangga.

Penulis adalah Monica Adi Margareta, Mahasiswi Universitas Airlangga.

Koran Satu, Opini – Beberapa waktu terakhir, kita melihat bahwa nilai tukar mata uang menjadi pembahasan di berbagai media. Ada satu fenomena baru dari investor asing yang dikabarkan melakukan aksi sell.

Istilah Sell Indonesia bahkan sempat ramai diperbincangkan. Tidak sedikit yang kemudian khawatir. Tidak sedikit pula yang mulai meragukan arah perekonomian Indonesia.

Saya kemudian berpikir, Mengapa setiap kali rupiah melemah, kepercayaan diri bangsa ini seolah ikut melemah?

Ketika investor asing masuk ke Indonesia, kita menyebutnya sebagai tanda kepercayaan dunia terhadap ekonomi nasional. Ketika investor asing keluar, kita justru menganggapnya sebagai tanda bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Lalu saya bertanya-tanya, sejak kapan ukuran masa depan bangsa ditentukan oleh keputusan investor?

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa investasi asing tidak penting. Dalam ekonomi modern, modal memiliki peran yang besar dalam mendorong pertumbuhan.

Pabrik membutuhkan investasi. Infrastruktur membutuhkan investasi. Lapangan pekerjaan juga sering kali lahir dari investasi.

Namun ada satu hal yang perlu dipahami bersama. Tidak semua kepentingan pelaku pasar selalu sejalan dengan kepentingan pembangunan nasional Indonesia.

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi seringkali terlupakan.

Tentunya investor memiliki tujuan utama untuk memperoleh keuntungan. Mereka akan menempatkan modal di tempat yang dianggap paling menguntungkan dan memindahkannya ketika terdapat peluang yang lebih baik di tempat lain.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Itulah cara pasar bekerja. Akan tetapi, negara memiliki tujuan yang berbeda.

Negara tidak hanya berbicara tentang keuntungan. Negara berbicara tentang kesejahteraan masyarakat, pemerataan pembangunan, stabilitas sosial, kesempatan kerja, dan masa depan generasi berikutnya.

Di sinilah perbedaan keduanya, apa yang baik bagi investor belum tentu baik bagi negara. Sebaliknya, apa yang dibutuhkan negara tidak selalu menghasilkan keuntungan jangka pendek bagi pelaku pasar.

Baca Juga :  Menakar Urgensi Etika Politik dalam Menjaga Stabilitas Demokrasi Indonesia

Karena itu, ketika muncul gelombang aksi jual terhadap aset Indonesia, masyarakat tidak perlu serta-merta menerjemahkannya sebagai vonis bahwa masa depan bangsa ini telah berakhir.

Pasar memiliki logikanya sendiri, Hari ini mereka datang. Besok mereka pergi. Lusa mereka bisa kembali lagi. Namun Indonesia tetap ada. Petani tetap harus menanam padi. Nelayan tetap harus melaut.

Guru tetap harus mengajar. Mahasiswa tetap harus belajar. Pengusaha tetap harus menjalankan usahanya. Kehidupan bangsa tidak berhenti hanya karena modal keluar dari pasar keuangan.

Justru di sinilah saya melihat persoalan yang lebih besar. Selama ini kita terlalu sering membahas sektor keuangan, tetapi kurang memberi perhatian yang sama kepada sektor riil.

Kita membicarakan nilai tukar, suku bunga, arus modal, dan pasar keuangan hampir setiap hari. Namun pada saat yang sama, kita masih menghadapi berbagai pekerjaan rumah yang belum selesai.

Produktivitas masih perlu ditingkatkan. Industrialisasi masih perlu diperkuat. Hilirisasi masih membutuhkan konsistensi. Nilai tambah dari sumber daya alam masih perlu diperbesar.

Padahal kekuatan sejati sebuah negara tidak lahir dari angka yang bergerak di grafik harga suatu perdagangan.

Kekuatan sebuah negara lahir dari kemampuannya menciptakan nilai. Sektor moneter dan sektor riil pada dasarnya tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan.

Jika sektor moneter adalah darah yang mengalir dalam tubuh perekonomian, maka sektor riil adalah jantung yang memompanya.

Ketika darah mengalir deras tetapi jantung melemah, tubuh tidak akan sehat. Begitu pula ekonomi.

Pada hakikatnya, setiap uang yang beredar seharusnya merepresentasikan aktivitas produktif yang nyata. Setiap pertumbuhan di sektor moneter idealnya diikuti oleh pertumbuhan pada sektor riil.

Setiap input yang masuk ke dalam sistem ekonomi semestinya menghasilkan output yang dapat dirasakan masyarakat.

Baca Juga :  Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari sebagai Alat Berpikir Praktis dan Efisien

Namun ketika sektor moneter bergerak jauh lebih cepat dibandingkan sektor riil, ketidakseimbangan menjadi sulit dihindari. Pertumbuhan mungkin terlihat dalam angka, tetapi belum tentu dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah pelajaran penting yang perlu dipahami dari pelemahan rupiah hari ini.

Bukan sekadar tentang kurs.

Bukan sekadar tentang dolar.

Bukan pula sekadar tentang investor asing.

Melainkan tentang bagaimana Indonesia membangun fondasi ekonominya sendiri. Saya percaya masyarakat berhak mengkritik pemerintah.

Kritik adalah bagian dari demokrasi. Pemerintah yang baik justru membutuhkan kritik agar tidak kehilangan arah. Namun saya juga percaya bahwa masa depan Indonesia tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh persepsi pasar.

Jika setiap kali investor asing keluar kita langsung kehilangan optimisme, maka sesungguhnya kita sedang menyerahkan kepercayaan diri bangsa kepada pihak lain.

Padahal bangsa yang besar tidak dibangun di atas ketergantungan seperti itu.

Bangsa yang besar dibangun oleh keyakinan terhadap kemampuannya sendiri.

Keyakinan untuk terus berproduksi.

Keyakinan untuk terus berinovasi.

Keyakinan untuk terus belajar.

Keyakinan untuk terus memperbaiki apa yang masih salah. Karena pada akhirnya, kekuatan Indonesia tidak terletak pada seberapa banyak modal yang masuk hari ini.

Kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan rakyatnya untuk menciptakan nilai, membangun produktivitas, dan menjaga keberlangsungan pembangunan dalam jangka panjang.

Rupiah yang melemah mungkin merupakan sebuah peringatan. Namun bagi saya, peringatan itu bukanlah ajakan untuk panik. Peringatan itu adalah ajakan untuk berbenah. Ajakan untuk memperkuat sektor riil. Ajakan untuk memperkuat daya saing bangsa.

Ajakan untuk membangun ekonomi yang tidak mudah goyah hanya karena perubahan sentimen pasar.

Sebab pada akhirnya, investor akan selalu mencari keuntungan. Pasar akan selalu bergerak mengikuti kepentingannya. Tetapi Indonesia memiliki sesuatu yang jauh lebih besar daripada itu.

Baca Juga :  Menghadapi Quarter Life Crisis dan Cara Melewatinya dengan Tenang

Indonesia memiliki rakyat yang bekerja setiap hari, yang terus belajar, terus berproduksi, dan terus berharap akan masa depan yang lebih baik.

Dan selama harapan itu masih ada, saya percaya Indonesia tidak sedang di-sell. Indonesia sedang diuji.

*Penulis adalah Monica Adi Margareta, Mahasiswi Universitas Airlangga.

Berita Terkait

Transformasi SDM di Era Kecerdasan Buatan: Saatnya Human Capital Menjadi Prioritas
Kebijakan AI di Indonesia, Inovasi Harus Berjalan Beriringan dengan Perlindungan Hak Masyarakat
Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari sebagai Alat Berpikir Praktis dan Efisien
Matematika Saja Tak Cukup di Era Digital
Ketika Walimah Menjadi Urusan Bersama: Tradisi Majang Masyarakat Banjar dalam Perspektif Sosiologi Hukum Islam
Menguatkan Pendapatan Daerah Melalui ZISWAF: Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi Lokal Berbasis Syariah
Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Keagamaan Generasi Z dalam Perspektif Sosiologi Hukum Islam
Kerapan Sapi Madura: Sejarah, Aturan, dan Filosofi Budaya

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 14:31 WIB

Waspada! Jangan Tertipu Kepanikan Fenomena Sell Indonesia

Senin, 6 Juli 2026 - 13:14 WIB

Transformasi SDM di Era Kecerdasan Buatan: Saatnya Human Capital Menjadi Prioritas

Minggu, 5 Juli 2026 - 22:55 WIB

Kebijakan AI di Indonesia, Inovasi Harus Berjalan Beriringan dengan Perlindungan Hak Masyarakat

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:35 WIB

Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari sebagai Alat Berpikir Praktis dan Efisien

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:30 WIB

Matematika Saja Tak Cukup di Era Digital

Berita Terbaru