Koran Satu, Situbondo – Perkumpulan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (PPMPI) Indonesia memperkuat arah pengembangan pendidikan tinggi Islam melalui peluncuran kurikulum baru Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Langkah tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam Temu Tahunan XIII PPMPI yang dirangkaikan dengan International Annual Conference on Islamic Education Management di Banyuglugur, Situbondo, pada 22–24 Juli 2026.
Forum yang mengangkat tema “Menavigasi MPI 5.0: Integrasi Kecerdasan Buatan, Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE), dan Riset Berdampak Menuju Rekognisi Global” itu mempertemukan sekitar 110 akademisi dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS). Sebanyak 98 di antaranya merupakan ketua dan perwakilan Program Studi MPI dari berbagai daerah di Indonesia.
Pembukaan kegiatan pada Rabu (22/7/2026) berlangsung dalam nuansa kebangsaan. Para peserta tampil mengenakan pakaian adat dari daerah asal masing-masing sebagai simbol keberagaman budaya sekaligus semangat persatuan di lingkungan akademik.
Ketua Umum PPMPI Indonesia, Prof. Dr. Sri Rahmi, M.A., menyampaikan bahwa perubahan teknologi, dinamika kebutuhan masyarakat, dan kompetisi pendidikan tinggi menuntut Program Studi MPI terus melakukan pembaruan. Menurutnya, kurikulum baru yang diperkenalkan dalam forum tersebut diharapkan menjadi pedoman bersama bagi pengembangan Program Studi MPI di perguruan tinggi Islam.
Kurikulum tersebut disusun untuk memperkuat kompetensi lulusan, menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan zaman, serta meningkatkan daya saing lulusan pada level nasional maupun internasional.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada Kamis (23/7/2026) dengan klinik teknis instrumen Akreditasi LAMDIK 3.0 yang dipandu Sekretaris Umum PPMPI, Prof. Dr. Zainal Arifin, M.Pd., yang juga merupakan asesor LAMDIK. Selain itu, peserta memperoleh penguatan mengenai implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan pengembangan riset berdampak dari Wakil Sekretaris Umum PPMPI, Dr. Devi Pramitha, M.Pd.I., yang juga menjadi Koordinator Pengembang Kurikulum S-3 PPMPI.
Dalam pemaparannya, Dr. Devi menegaskan bahwa keberhasilan kurikulum OBE diukur dari capaian kompetensi mahasiswa, bukan hanya dari materi yang disampaikan dosen.
“Kurikulum OBE it’s not about what the lecturer teach, but it’s about what the student should achieve. Sehingga bagi para pengelola prodi MPI harus benar-benar fokus dan serius dalam menyusun kurikulum yang sesuai dengan profil dan capaian pembelajaran lulusan MPI.”
Ia juga mengajak para dosen MPI untuk meningkatkan kualitas penelitian yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus berpeluang memperoleh pendanaan riset nasional, termasuk melalui program MoRA The AIR Fundyang diselenggarakan PUSPENMA Kementerian Agama RI.
“Salah satu tips agar bisa lolos pendanaan riset nasional adalah gunakan pendekatan transdisipliner, sehingga dosen-dosen MPI ini harus aktif kolaborasi dengan dosen-dosen diluar bidang MPI. Yang nantinya akan lebih bisa menghasilkan riset yg berdampak dari segala sisi.”








Komentar