Atasi Kelangkaan Dokter, DPR Usul Pakai AI; Menkes Tegaskan Teknologi Hanya Alat Bantu

Solusi Krisis Dokter Daerah Terpencil, DPR Usul Pemanfaatan AI di Sektor Kesehatan

- Jurnalis

Selasa, 30 Juni 2026 - 12:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh. (Dok: Istimewa)

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh. (Dok: Istimewa)

Koran Satu, Jakarta – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau *Artificial Intelligence* (AI) di sektor kesehatan dinilai dapat menjadi solusi taktis untuk membantu pelayanan medis di daerah yang masih kekurangan dokter. Usulan tersebut mencuat dari Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, dalam rapat kerja bersama Kementerian Kesehatan.

Nihayatul menyampaikan bahwa perkembangan teknologi AI sudah merambah berbagai bidang, sehingga sangat layak untuk mendukung pelayanan kesehatan, khususnya di wilayah terpencil yang belum memiliki dokter penanggung jawab.

“Kalau memang AI sudah berkembang sedemikian rupa, apakah memungkinkan teknologi itu digunakan untuk membantu diagnosis atau analisis penyakit di daerah yang kekurangan dokter?” kata Nihayatul dalam rapat kerja Komisi IX DPR RI.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan dokter di Indonesia merupakan persoalan pelik yang tidak dapat selesai dalam waktu singkat. Proses panjang pendidikan kedokteran mulai dari akademik, koas, hingga siap bertugas membuat masyarakat di daerah tidak bisa terus-menerus menunggu tanpa kepastian layanan. Oleh karena itu, ia menilai teknologi seperti AI, telemedicine, hingga operasi jarak jauh bisa menjadi alternatif solusi sementara sembari pemerintah mempercepat penambahan jumlah tenaga medis.

Menkes Budi Gunadi Sadikin Tegaskan AI Hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Dokter

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merespons positif usulan tersebut dan menyatakan dukungan pemerintah terhadap pemanfaatan teknologi digital di sektor kesehatan. Namun, Menkes memberikan catatan kritis dan menegaskan bahwa teknologi tidak boleh menggeser prioritas utama pemerintah, yakni menambah jumlah dokter dan memperbaiki pemerataan tenaga kesehatan.

Budi menjelaskan bahwa kecerdasan buatan sejatinya hanya berfungsi sebagai instrumen pelengkap untuk membantu tenaga kesehatan dalam membaca hasil pemeriksaan atau memberikan rekomendasi data medis.

“AI itu alat bantu. Telemedicine juga alat bantu. Tetapi dokter tetap harus ada karena pemeriksaan pasien tidak hanya melihat data, melainkan juga membutuhkan pemeriksaan fisik dan penilaian klinis,” tegas Budi.

Baca Juga :  Kisah Rizal Priyaga, Turun Berat Badan 23 Kg hingga Finis Full Marathon 2026

Pemerintah Fokus Kejar Pemerataan dan Mutu Layanan Medis

Menkes menambahkan bahwa keputusan akhir terkait diagnosis dan tindakan medis tetap mutlak berada di tangan dokter demi menjaga keselamatan pasien. Teknologi digital secanggih apa pun tidak akan bisa menggantikan sentuhan manusiawi dan penilaian klinis langsung seorang dokter di lapangan.

Saat ini, pemerintah terus berupaya meningkatkan jumlah dokter melalui perluasan kapasitas pendidikan kedokteran serta membenahi pola distribusi tenaga kesehatan ke pelosok negeri. Dengan demikian, pemanfaatan AI ke depan dipandang sebagai mitra pelengkap sistem layanan kesehatan nasional, bukan sebagai kompensasi untuk menghentikan pengiriman dokter ke daerah.

Berita Terkait

Putusan MA soal Suket Gibran, Soleman Ponto Ulas Syarat Pendidikan dalam UU Pemilu
Skandal Limbah Smelter Kuala Tanjung, FKK Desak Bareskrim dan Kejagung Periksa Direksi PT Inalum Tanpa Terkecuali
FKK Desak KPK Usut Tuntas Menteri Berinisial “RAMA” yang Namanya Disebut dalam Sidang Eks Wamen Imipas Silmy Karim
Dalang Suap Rp20,6 Miliar Terungkap: Dirut PT Oktasan Baruna Persada Tria Belltitonito Disebut Jadi Otak Penyerahan Uang ke Febrie Ardiansyah
Skandal Korupsi Tata Kelola Nikel: Kejagung Periksa Saksi ESDM Usai Tetapkan PT Ceria Nugraha Indotama (PT CNI) Sebagai Tersangka Korporasi
Perpres 107/2026 Alihkan Impor ke Negara: Apa yang Berubah dari Pertamina?
Dinilai Gagal Total Pimpin BUMN Telekomunikasi, FKK Desak Pencopotan Dirut Telkom Nanang Hendarno
Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Munajat Santri untuk Negeri di Istiqlal

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 14:09 WIB

Putusan MA soal Suket Gibran, Soleman Ponto Ulas Syarat Pendidikan dalam UU Pemilu

Minggu, 1 November 2026 - 09:53 WIB

Skandal Limbah Smelter Kuala Tanjung, FKK Desak Bareskrim dan Kejagung Periksa Direksi PT Inalum Tanpa Terkecuali

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:33 WIB

FKK Desak KPK Usut Tuntas Menteri Berinisial “RAMA” yang Namanya Disebut dalam Sidang Eks Wamen Imipas Silmy Karim

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:07 WIB

Dalang Suap Rp20,6 Miliar Terungkap: Dirut PT Oktasan Baruna Persada Tria Belltitonito Disebut Jadi Otak Penyerahan Uang ke Febrie Ardiansyah

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:47 WIB

Skandal Korupsi Tata Kelola Nikel: Kejagung Periksa Saksi ESDM Usai Tetapkan PT Ceria Nugraha Indotama (PT CNI) Sebagai Tersangka Korporasi

Berita Terbaru