Penembakan Saat Kenduri Maulid di Pidie, Wanda Assyura Desak Investigasi Terbuka

Seorang pemuda tewas dan sembilan warga terluka dalam insiden penembakan di Desa Pulo Keunari, Kabupaten Pidie, Aceh.

- Jurnalis

Rabu, 4 November 2026 - 22:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Pemuda Aceh, Wanda Assyura, mengecam keras insiden penembakan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan warga sipil terluka. (Foto: Dok/Ist).

Ketua Pemuda Aceh, Wanda Assyura, mengecam keras insiden penembakan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan warga sipil terluka. (Foto: Dok/Ist).

Koran Satu, PIDIE — Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (4/11/2026), berubah menjadi kepanikan setelah terdengar rentetan tembakan senjata api di tengah kegiatan kenduri warga.

Dalam peristiwa tersebut, Afzalul Rizal (21), pemuda setempat, dilaporkan meninggal dunia akibat luka tembak di bagian dada. Sementara itu, sembilan warga lainnya mengalami luka-luka. Korban luka dilaporkan termasuk perempuan dan anak-anak.

Berdasarkan keterangan awal warga, insiden tersebut diduga bermula dari ketegangan terkait upaya penurunan Bendera Bulan Bintang di lokasi kegiatan. Sejumlah warga disebut memprotes tindakan tersebut hingga situasi memanas dan berujung pada letusan senjata api.

Namun, kronologi lengkap kejadian, identitas pihak yang melepaskan tembakan, serta pertanggungjawaban atas insiden tersebut masih memerlukan penyelidikan. Hingga Rabu malam, belum terdapat keterangan resmi dari TNI maupun Polri mengenai peristiwa tersebut.

Ketua Pemuda Aceh, Wanda Assyura, mengecam keras insiden penembakan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan warga sipil terluka. Wanda menilai penggunaan pendekatan represif bersenjata di tengah permukiman masyarakat merupakan persoalan serius yang harus mendapat perhatian pemerintah dan aparat keamanan.

Wanda Assyura, dalam pernyataannya Rabu (4/11/2026), menyampaikan kesedihan mendalam atas meninggalnya seorang pemuda serta jatuhnya korban luka dalam peristiwa tersebut.

“Sebagai putra Aceh, dada saya sesak. Ada rasa sedih yang teramat dalam sekaligus amarah melihat anak bangsa, darah daging kita sendiri di Aceh, kembali tumbang oleh peluru tajam aparat,” ujar Wanda.

Menurut Wanda, peristiwa tersebut juga berpotensi mencederai kepercayaan masyarakat terhadap komitmen perdamaian Aceh yang telah dibangun sejak penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Ia mengatakan, selama dua dekade terakhir, masyarakat Aceh berupaya menjaga perdamaian agar generasi muda dapat tumbuh dalam suasana aman dan tidak lagi mengalami ketakutan akibat konflik bersenjata.

Baca Juga :  Ibu Profesional Jember Raya Gelar BERGEMA untuk 38 Anak Penerima Manfaat

“Dua puluh tahun kami merawat damai ini dengan sisa-sisa air mata, melipat masa lalu agar anak-anak kami percaya seragam militer adalah pelindung, bukan sumber ketakutan. Hari ini kepercayaan itu goyah,” katanya.

Wanda meminta Panglima TNI memastikan peristiwa tersebut diusut secara menyeluruh, transparan, dan melibatkan lembaga independen. Ia juga mendesak agar pihak yang terbukti bertanggung jawab diproses melalui mekanisme peradilan yang terbuka.

“Kami mengetuk hati nurani Panglima TNI dan seluruh bangsa Indonesia: jangan biarkan darah kembali mengalir di tanah indatu kami, seret oknum penembak itu ke pengadilan terbuka,” tegasnya.

Selain itu, Wanda mendesak dilakukannya autopsi independen, investigasi bersama Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), perlindungan terhadap saksi, serta keterbukaan informasi mengenai pihak yang diduga terlibat.

Sementara itu, LBH Banda Aceh bersama KontraS Aceh turut mengecam insiden tersebut. Keduanya menilai persoalan regulasi dan perbedaan pandangan mengenai simbol daerah tidak seharusnya diselesaikan melalui penggunaan kekuatan bersenjata.

Persoalan Bendera Bulan Bintang, yang berkaitan dengan dinamika regulasi dan politik di Aceh, menurut tuntutan yang disampaikan para pihak, harus diselesaikan melalui dialog dan mekanisme hukum.

Bagi masyarakat Aceh, perdamaian yang telah berlangsung selama dua dekade merupakan hasil perjuangan panjang yang perlu dijaga bersama. Karena itu, jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa di Pulo Keunari menuntut kejelasan, pertanggungjawaban, dan langkah nyata agar kejadian serupa tidak terulang.

Berita Terkait

Basnang Said Ajak Kementerian Lain Hidupkan BLK Pesantren
Harta Kekayaan Eks Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal Disorot, FKK Desak Aphan Usut Tuntas Laporan Dugaan Korupsi
Presma UIN A.M. Sangadji: Pemuda Kerap Kehilangan Daya Kritis di Hadapan Kekuasaan
DEMA UIN Siber Syekh Nurjati Bedah Relevansi Sumpah Pemuda di Tengah Persoalan Kekinian
Bahaya Laten Neo-Pamswakarsa dan Runtuhnya Ilusi Polri Bersama Rakyat
Akademisi IAIN Sorong Ingatkan Pemuda: Kritik Harus Punya Dasar Kuat
Dinilai Langgar Etika Pejabat Publik, Bapera Mubar Desak Gubernur Sultra Copot Kadis Pariwisata Ridwan Badallah
Lapas Kelas IIA Pontianak Diduga Masih Kebobolan Barang Terlarang, FKK Desak Pemeriksaan Menyeluruh Terhadap Kalapas Ridha Ansari

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 22:10 WIB

Penembakan Saat Kenduri Maulid di Pidie, Wanda Assyura Desak Investigasi Terbuka

Minggu, 1 November 2026 - 08:42 WIB

Basnang Said Ajak Kementerian Lain Hidupkan BLK Pesantren

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Harta Kekayaan Eks Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal Disorot, FKK Desak Aphan Usut Tuntas Laporan Dugaan Korupsi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:45 WIB

Presma UIN A.M. Sangadji: Pemuda Kerap Kehilangan Daya Kritis di Hadapan Kekuasaan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:23 WIB

DEMA UIN Siber Syekh Nurjati Bedah Relevansi Sumpah Pemuda di Tengah Persoalan Kekinian

Berita Terbaru